I Gusti Ketut Riksa menunjukkan tanaman jeruk yang dibudidaya secara organik dengan sentuhan EM4 di kawasan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.

Instruktur Effective Microorganisms 4 (EM4) pada Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) Bali, Ir. I Gusti Ketut Riksa telah membuktikan petani di kawasan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali masih mampu mengembangkan tanaman jeruk asalkan menggunakan teknologi organik.

“Jika mengembangkan tanaman baru haruslah 100 % menggunakan teknologi organik. Apabila tanamannya sudah besar-besar, mungkin umurnya sudah belasan tahun tanamannya hidup enggan mati tak mau” kata Gusti Ketut Riksa yang juga Staf Ahli PT Songgolangit Persada, agen tunggal yang memproduksi dan memasarkan EM4 pertanian, EM4 perikanan, EM4 peternakan, EM4 limbah keseluruh daerah di Indonesia yang mendapat lisensi dari EMRO Jepang.

Ia mengatakan, lakukanlah pangkasan berat terhadap tanaman jeruk yang besar dengan memangkas batangnya 30 Cm di atas tanah. Setelah mendapatkan air yang cukup tanaman jeruk akan bertunas.

Batang, cabang dan ranting yang berisi endapan pati, pastikan telah terbuang semuanya. Setelah tumbuh tunas baru pastilah tidak ada endapan pati pada phloimnya. Asimilatnya lancar beredar keseluruh bagian tanaman, karena  endapan pati menghalanginya telah terbuang semuanya.

Gusti Ketut Riksa menambahkan, sekitar dua tahun setelah pemangkasan berat, tanaman jeruk mulai mampu berbuah lagi.

Sementara Ida Bagus Ketut Oka, sosok pria enerjik asal Desa Sanur, Denpasar yang menggeluti usaha bisnis pariwisata yakni pemilik “Restoran Grup” tertarik menekuni perkebunan jeruk organik di atas lahan seluas 2,4 hektar di Bayung Gede, Penelokan, Kintamani, Kabupaten Bangli.

Ia mengembangkan tujuh jenis jeruk sepenuhnya menggunakan pupuk organik cair, pupuk organik padat Bokashi Kotaku dan Effective Microorganisme 4 (EM4).

Salah seorang petani binaan Ir. Gusti Ketut Riksa menuturkan, sebagai petani jeruk yang tergolong baru sejak tahun 2019 atau lima tahun silam tidak mempunyai pengalaman, keahlian dan keterampilan khusus dalam budidaya tanaman jeruk.

“Saat itu saya langsung memesan 50 ton pupuk organik padat Bokashi Kotaku untuk memupuk 1.600 pohon tanaman jeruk pada hamparan lahan seluas dua hektar,” tutur Ida Bagus Oka.

Dengan dibantu dua orang pekerja, tanaman jeruk tumpang sari dengan tanaman cabai, kool, sawi, terong dan sayur mayur kebutuhan sehari-hari dirawat dengan pupuk organik cair dan padat sentuhan EM4 untuk memfermentasi limbah organik menjadi pupuk padat dan pupuk cair.

Setelah pemupukan awal menggunakan pupuk organik tahun 2019, menyusul Covid-19, perawatan kebun sedikit terganggu dan dilanjutkan dalam tahun 2021 hingga sekarang.

Tujuh jenis jeruk yang ditanam pada hamparan seluas 2,4 hektar terdiri atas jenis jeruk siam, selayar, jeruk peras, jeruk nipis, jeruk Bali dan limo berkat pemeliharaan intensif menggunakan EM4, pupuk organik padat Bokashi Kotaku, pupuk organik cair Bokashi, kini sudah panen dengan buah besar, mulus dengan rasa manis dan banyak air.

Kebun jeruk dengan perawatan intensif pada lahan setengah hektar tahap-tahap awal mampu menghasilkan dua ton jeruk dan panen berikut meningkat dua kali lipat bahkan lebih bisa mencapai lima ton, tutur Ida Bagus Oka.https://linktr.ee/em4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini