Ketenangan pikiran tidak hanya dibutuhkan ketika menghadapi masalah, tetapi juga saat berada dalam kondisi yang baik-baik saja maupun mendapatkan keuntungan.
Direktur Utama PT Karya Pak Oles Group Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr., menilai kemampuan mengelola prana atau energi kehidupan penting untuk menjaga keseimbangan diri dan ketepatan dalam mengambil keputusan.
Menurutnya, seseorang tetap perlu menjaga ketenangan ketika menghadapi perubahan kondisi, termasuk dalam dunia usaha. Penjualan yang meningkat maupun menurun, kata dia, sama-sama dapat mempengaruhi kondisi psikologis apabila tidak disikapi dengan tenang.
“Kalau penjualan naik tidak tenang, kita bisa membeli yang aneh-aneh. Kalau penjualan turun dan kita tidak tenang, bisa salah mengambil keputusan,” ujar Wididana saat menjadi narasumber dalam seminar Prana Management for Human Wellness yang digelar secara daring.
Ia mengatakan pengelolaan prana tidak cukup hanya dipahami secara teori, tetapi perlu dipraktikkan secara rutin hingga menjadi kebiasaan. Salah satu latihan sederhana adalah mengatur pernapasan dengan menarik dan mengembuskan napas secara perlahan dan panjang.
“Tarik napas panjang, lepas napas panjang. Saat menarik napas kita sadar ada energi yang bagus masuk, dan saat mengeluarkan napas ada energi yang keluar,” kata pria yang biasa disapa Pak Oles ini.
Lebih jauh, Wididana menekankan pentingnya kedamaian pikiran dalam menghadapi berbagai situasi. Menurut dia, kondisi rileks membuat seseorang lebih mampu melihat persoalan dan menentukan jalan keluar secara jernih. “Kalau kita rileks dan tenang, keputusan akan tepat, kita mengambil jalan keluar dengan tepat,” katanya.
Latihan tersebut merupakan bagian dari pranayama yang dapat dilakukan secara rutin pada pagi atau sore hari. Konsistensi latihan dinilai penting agar pengaturan napas menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Wididana pun mengaitkan kualitas pernapasan dengan kondisi tubuh dan pikiran. Ketika tubuh tidak seimbang, seseorang dapat lebih mudah merasa lemas, stres maupun mudah marah. Kondisi tersebut, juga dapat dipengaruhi pola hidup seperti kurang tidur dan kurang makan.
Selain itu, pengalaman tidur seperti merasa “ditindih”, sesungguhnya kondisi tersebut dapat berkaitan dengan jeda atau gangguan pernapasan saat tidur. Jika seseorang sering mengalami henti napas saat tidur, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Latihan pernapasan juga dapat digunakan untuk membantu mengatur kondisi tubuh. Napas yang lebih cepat, misalnya, dapat digunakan dalam latihan tertentu untuk meningkatkan rasa hangat tubuh, sedangkan teknik pernapasan bergantian melalui sisi kiri dan kanan digunakan dalam praktik pranayama untuk membantu relaksasi.
Pada akhirnya, pengelolaan prana menurut Wididana bukan sekadar latihan pernapasan, tetapi bagian dari upaya membangun keseimbangan antara tubuh, pikiran dan aktivitas sehari-hari. Sebab, ketika keseimbangan terganggu, seseorang bukan hanya lebih mudah kehilangan energi, tetapi juga berpotensi kehilangan ketenangan dalam menghadapi persoalan dan mengambil keputusan.linktr.ee/pakolescom

