Fotosinthetik Kekuatan EM Untuk Keselamatan Lingkungan

0
126
Staf ahli PT Songgolangit Persada, Ir. Ketut Riksa saat menjelaskan tentang pertanian organik terpadu dengan teknologi EM di Iinstitut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA).

Pengembangan pertanian organik berbasis Effective Microorganisms (EM) mampu menjadikan lahan, baik tanah sawah untuk tanaman padi, hortikultura maupun tanah tegalan untuk berbagai jenis tanaman buah-buahan selamanya tetap subur menghasilkan bahan pangan yang sehat dan melimpah, memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang cenderung semakin meningkat populasinya.

Lahan pertanian dan tegalan terawat dengan baik kesuburannya berkat menggunakan bahan organik kaya akan sumber hayati hidup (Bokashi) hasil fermentasi sentuhan teknologi EM sehingga tanah yang subur sangat baik untuk diwariskan kepada anak dan cucu.

“Pertanian organik selalu memperoleh keuntungan yakni pangan yang sehat kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi dengan baik, kelestarian lingkungan dapat terpelihara yang secara tidak langsung sangat penting bagi kesehatan dan kehidupan umat manusia,” kata Instruktur EM pada Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) Bali Ir. I Gusti Ketut Riksa.

Sosok pria enerjik, mantan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangli, Bali sudah sejak tahun 1997 atau 27 tahun yang silam mencetak ribuan petani organik dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengembangkan pertanian ramah lingkungan di daerahnya masing-masing.

IPSA Bali di Desa Bengkel, Busungbiu, Kabupaten Buleleng itu dibangun oleh Direktur Utama PT Songgolangit Persada, Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr, alumnus Faculty Agriculture University of The Ryukyus Okinawa, Jepang (1987-1990) adalah agen tunggal yang memproduksi EM4 pertanian, EM4 peternakan, EM4 pertanian dan EM4 limbah ke seluruh daerah di Indonesia yang mendapat lisensi dari EMRO Jepang.

Menurut Gusti Ketut Riksa, sesungguhnya manusia, hewan dan tanaman memerlukan EM untuk kelangsungan hidupnya masing-masing. Sedangkan air kebanyakan orang menganggapnya sebagai benda mati, namun air bisa mengenal lingkungan sekitarnya dan dapat memberikan reaksi terhadap aksi yang ditujukan kepadanya (air), seperti temuan seorang ahli dari Jepang bernama Masaru Emoto.

Teknologi EM temuan Prof. Dr. Teruo Higa, guru besar bidang hortikultura University Of The Ryukyus Okinawa, Jepang telah diterapkan ratusan negara di belahan dunia, termasuk Indonesia.

Inti kekuatan

Mikroba dan bakteri fotosinthese adalah inti kekuatan EM. Kata fotosinthesa berasal dari suatu proses yang terjadi pada daun tanaman yang merupakan reaksi bio antara H2O dengan CO2 dalam pembentukan karbohidrat. Berkat bantuan sinar matahari reaksi ini dapat berlangsung.

Namun tanpa bantuan sinar matahari zat hijau daun yang lazim disebut chlorophil tidak mampu membuat karbohidrat. Selanjutnya karbohidrat inilah yang menjadi nutrisi awal, yang terjadi di alam.

Sesudah itu dari karbohidrat barulah terbentuk nutrisi-nutrisi lainnya seperti protein, lemak enzim, hormun dan lain-lain. Pembentukan karbohidrat secara alami inilah yang mengandung “life power”. Ini berarti bahwa bakteri fotosinthetik bisa berada di daun, di udara dan dapat juga hidup di dalam tanah.

Diudara bakteri ini bisa mereaksikan berbagai polutan seperti H2S Methan, Merkaptan, amoniak dan lain-lain menjadi zat-zat bioaktif tanpa warna dan tanpa bau yang tidak mengganggu kehidupan, bahkan dapat meningkatkan derajat kesehatan.

Di dalam tanah ia mereaksikan sekresi tanaman dan berbagai polutan lainnya, membuat zat-zat anti bakteri, yang  kemudian dapat diserap oleh tanaman. 

Menurut Prof. DR. Teruo Higa, bakteri Fotosinthetik merupakan inti kekuatan EM,  bakteri abadi dan juga sebagai  bakteri  tertua. Bakteri itu keberadaannya sangat banyak di udara  air dan di dalam tanah, menghasilkan antioksidan guna menyelamatkan lingkungan dari pencemaran, tutur Gusti Riksa.https://linktr.ee/em4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini