IPSA Bali: Latih Ribuan Petani Organik Berbasis EM

0
120
Ir. I Gusti Ketut Riksa menyampaikan materi terkait Pelatihan Pertanian Organik Terpadu dengan Teknologi EM kepada sejumlah peserta pelatihan di Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA).

Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) Bali, di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, dibangun tahun 1997, atau 27 tahun silam oleh Direktur Utama PT Songgolangit Persada (SLP), Dr. Ir. Gede Ngurah wididana, M.Agr sebagai tempat pelatihan pertanian organik berbasis Teknologi Effective Microorganisms 4 (EM4).

“IPSA Bali dibangun bertaraf internasional berkat didukung fasilitas kolam renang dan Villa IPSA untuk mendukung melancaran berbagai kegiatan nasional maupun internasional,” kata Instruktur EM pada IPSA Bali, Ir. I Gusti Ketut Riksa.

Ia mengatakan, IPSA Bali sejak dibangun 27 tahun yang silam melatih pertanian organik berbasis EM dari berbagai daerah di Indonesia untuk nantinya bisa diterapkan di daerahnya masing-masing.

Peserta latihan pertanian organik berbasis EM dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara, persyaratan minimal mengikuti kurikulum selama seminggu termasuk persiapan kedatangan dan keberangkatan pulang.

Materi latihan terdiri atas pelajaran teori dan praktik selama 3 hari di kelas, dan sisanya meliputi peninjuan lapangan, melihat dari dekat demplot panggunaan teknologi EM sambil berwisata.

“Bali sebagai daerah tujuan wisata utama di Indonesia, yakni setiap orang berangan-angan untuk bisa berkunjung ke Bali, sehingga kesempatan baik mengunjungi Pulau Dewata sekaligus dimanfaatkan untuk berwisata ibarat menyelam minum air,” tutur Gusti Ketut Riksa.

Sebelum Covid-19, menurut Kepala IPSA, Ketut Jadiasa, S.SOS peserta pelatihan yang bersertifikat mencapai 6.000 orang, belum lagi kunjugan sehari-hari untuk melihat koleksi tanaman obat yang dirawat dengan EM. Pelatihan IPSA yang mencapai ribuan peserta terdiri atas 5.500 orang dari berbagai daerah di Indonesia dan 500 peserta dari Malaysia.

Pemerintah Diraja Malaysia tidak tangung-tanggung membiayai pegawainya untuk menimba ilmu ke Indonesia, khususnya Bali, mulai dari jabatan wali kota, bupati dan karyawan biasa.

Para karyawan biasa mengikuti latihan tentang EM yang  sehari-harinya mengemban tugas khusus pengawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan pengawasan kualitas air sungai.

Wali Kota Johorbaru mengatakan bahwa, jiwa EM baru ditemukan di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, daerah pesisir utara Pulau Bali, bukan di Saraburi, tutur Gusti Riksa.https://linktr.ee/em4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini