Staf Ahli: Konsumsi Hasil Pertanian Organik Kaya Sumber Kehidupan

0
58
Stah ahli PT. Songgolangit Persada Ir. I Gusti Ketut Riksa sedang mengkonsumsi talas yang dibudidaya secara organik menggunakan EM4.

Staf Ahli PT Songgolangit Persada, Ir. I Gusti Ketut Riksa menilai, masyarakat yang selalu mengkonsumsi hasil pertanian organik yang kaya akan sumber kehidupan, berkat proses pemeliharaannya dipupuk dengan bokashi, sehingga banyak mengandung hormon, enzim, vitamin, antioksidan, asam amino dan asam nukleat yang kaya akan daya hidup.

“Hal itu berbeda dengan produksi pertanian kimia atau pertanian konvensional yang sedikit mengandung ensim antioksidan, mikro elemen dan hampir tidak mengandung daya hidup,” kata I Gusti Ketut Riksa yang juga instruktur pertanian organik dengan sentuhan teknologi Effective Microorganisme (EM4) Yayasan Gede Ngurah Wididana (GNW) di Desa Bengkel, Busungbiu, Kabupaten Buleleng.

Ia mengatakan, jika manusia selalu mengkonsumsi bahan pangan yang serba miskin itu pertumbuhan dan kekebalannya terhadap penyakit semakin menurun, mengalami stres, cepat tua bahkan kehilangan hati nurani.

Energi hidup dan semua itu merupakan kerja sama mikroba dengan tanaman di tempatnya tumbuh. Kerja sama itu baru membuahkan hasil dengan adanya energi bumi dan matahari.

Tanpa kedua energi tersebut tidak ada kehidupan dan tidak terbentuk pula produk yang berenergi hidup. Daya hidup bukan soal reaksi kimia yang sudah masuk keluar sebuah laboratorium.

Daya hidup itu hanya dapat diperoleh dari makluk hidup, tidak dapat dibuat secara sintetik. Zat kimia yang digunakan di sektor pertanian justru akan membunuh mikroba dan makluk hidup lainnya yang akhirnya dapat menghilangkan daya hidup itu sendiri.

Gusti Ketut Riksa menambahkan, konsumsi sayur-sayuran segar yang baru dipetik dari pohonnya dengan konsumsi sayuran yang sudah lama tersimpan di lemari pendingin (kulkas) rasanya jelas tidak enak karena sudah kehilangan daya hidup, meskipin nutrisi fisiknya mungkin persis sama.

Berbeda dengan sayuran yang baru dipetik dan langsung diolah atau dimasak rasanya jauh lebih nikmat karena masih mengandung daya hidup. Dengan demikian konsumsi bahan pangan yang mengandung energi hidup berpengaruh terhadap kehidupoan spritual, mental dan kehidupan fisik yang lain, ujar Gusti Riksa. https://linktr.ee/em4 #EM4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini