Tanaman-Hewan-Manusia Dapat Hidup Berkat Mikroba

0
26
I Gusti Ketut Riksa saat menyampaikan materi dalam Seminar Pertanian Organik Dengan Teknologi EM4 melalu zoom.

Seluruh kehidupan mulai dari tanaman, hewan dan manusia dapat melangsungkan hidup dan kehidupan berkat adanya mikroba, sehingga mikroba menjadi perhatian berbagai pihak berkat memiliki kemampuan yang luar biasa,

“Kehidupan mikroba bisa ditemukan di mana-mana, bahkan dalam tubuh manusia mikroba secara bersama-sama telah membentuk sebuah kehidupan,” kata Kepala Staf Ahli PT Songgolangit Persada Ir. I Gusti Ketut Riksa.

PT Songgolangit Persada (SLP) didirikan oleh Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr tahun 1993 merupakan satu-satunya di Indonesia yang mendapat lisensi dari Effective Microorganisms Research Organization (EMRO) Jepang yang bertugas untuk memproduksi, pemasarkan teknologi EM yang produksinya disebut pupuk hayati EM4, yakni EM4 untuk pertanian, EM4 perikanan, EM4 peternakan dan EM untuk mengatasi limbah.

Teknologi EM ditemukan oleh Prof. Dr. Teruo Higa, guru besar bidang hortikultura di University of The Ryukyus Okinawa, Jepang, dengan hasil penelitian selama 12 tahun. EM adalah teknologi yang mudah, murah, hemat energi, ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Teknologi EM sekarang berkembang sangat pesat, berkat diterimanya oleh masyarakat luas tentang pembangunan dan pengembangan pertanian organik, karena teknologi EM mendukung menyukseskan pelaksanaan pertanian organik.

Ia menjelaskan, mikroba dapat hidup pada suhu yang tinggi, rendah, kadar garam yang tinggi, suhu rendah maupun pada kadar gula yang tinggi. Mikroba hidup dalam populasi dan kepadatan yang tinggi.

Dalam setiap mili liter kubik udara terdapat 1.000-100.000 mikroba, di tangan manusia ada 100.000-1 juta mikroba setiap meter persegi, di usus manusia sekitar 100 triliun mikroba dan dalam setiap 1 gram tanah terdapat 1 juta-1 biliun nikroba.

Dengan demikian manusia hidup di tengah-tengah lautan mikroba. Oleh sebab itu berperang melawan mikroba sudah waktunya diakhiri dan diganti dengan hidup berdampingan dengan mikroba.

Gusti Ketut Riksa menjelaskan, zaman dulu seseorang bila berbicara tentang mikroba, asosiasinya selalu pada baksil yang menjadi penyakit manusia. Namun kini telah dikenal pemilahan mikroba berdasarkan dampaknya terhadap kesehatan manusia yakni baik (berguna), mikroba yang merugikan lebih dikenal dengan sebutan pathoten dan mikroba yang bersifat netral.

Mikroba yang baik bekerja sesuai proses fermentasi, yang merugikan beraktivitas sebagai bakteri pembusuk. Dalam keseimbangannya semua jenis mikroba itu membentuk kehidupan di bumi. Tubuh manusia adalah bagian dari sistem alam dan usus sebagai penghubung diantara keduanya, ujar Gusti Ketut Riksa. linktr.ee/pakolescom #songgolangitpersada #EM4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini