Limbah kotoran kambing dapat diolah menjadi pupuk organik cair (POC) berkualitas tinggi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman alpukat.

Limbah kotoran kambing yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai, ternyata dapat diolah menjadi pupuk organik cair (POC) berkualitas tinggi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman alpukat. Inovasi ini dilakukan oleh Ude Sudirman, S.P. (62), warga Desa Mekar Galih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut.

Gagasan tersebut muncul dari keprihatinannya melihat tumpukan kotoran kambing yang belum dimanfaatkan secara optimal, sementara harga pupuk kimia terus mengalami kenaikan. Melalui proses fermentasi menggunakan teknologi Effective Microorganisms 4 (EM4), limbah peternakan tersebut berhasil diubah menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman.

Menurut Ude, proses pembuatannya relatif sederhana. Kotoran kambing dimasukkan ke dalam drum bekas, kemudian dicampur dengan larutan EM4 dan gula merah sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme. Setelah ditambahkan air secukupnya, drum ditutup rapat dan difermentasi selama 14–21 hari. Selama proses berlangsung, campuran diaduk setiap dua hari sekali untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi.

“Setelah sekitar dua hingga tiga minggu, cairan berubah menjadi cokelat kehitaman dengan aroma menyerupai tape. Itu menandakan pupuk organik cair sudah siap digunakan,” ujar Ude.

Aplikasi POC juga cukup praktis. Sebanyak 100 ml pupuk organik cair dicampurkan ke dalam 10 liter air, kemudian dikocorkan ke area perakaran atau disemprotkan ke daun setiap dua minggu sekali.

Hasilnya, tanaman alpukat menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik. Tanah menjadi lebih gembur, daun tampak lebih hijau, tunas baru tumbuh lebih cepat, bunga tidak mudah rontok, serta buah menjadi lebih tebal dengan kualitas daging yang lebih pulen.

“Tanah yang tadinya keras jadi lebih gembur. Daun alpukat lebih hijau, tunas cepat muncul, bunga tidak mudah rontok, buahnya lebih tebal dan pulen,” ungkap Ude.

Pensiunan Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut tersebut menjelaskan bahwa kotoran kambing memiliki kandungan kalium yang cukup tinggi sehingga sangat baik untuk mendukung pertumbuhan dan produktivitas tanaman alpukat. Selain itu, penggunaan pupuk organik cair dinilai mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama sekaligus mengurangi biaya pemupukan.

Sementara itu, Dadang Hidayat, Marketing EM4 dari PT Songgolangit Persada, menjelaskan bahwa fermentasi kotoran kambing menggunakan EM4 membantu mempercepat proses penguraian bahan organik sekaligus memperkaya kandungan unsur hara dan mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanah.

“Melalui fermentasi EM4, kotoran kambing mampu menghasilkan unsur hara yang lebih lengkap serta hormon pertumbuhan alami. Nutrisi dilepaskan secara bertahap sehingga kesuburan tanah tetap terjaga dan tidak mudah mengalami penurunan kualitas seperti akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan,” jelas Dadang.

Pemanfaatan EM4 dalam pembuatan pupuk organik cair menjadi salah satu solusi pertanian berkelanjutan yang tidak hanya mengurangi limbah peternakan, tetapi juga membantu petani menghasilkan pupuk berkualitas dengan biaya yang lebih ekonomis. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi petani di berbagai daerah untuk memanfaatkan sumber daya lokal dalam meningkatkan produktivitas pertanian secara ramah lingkungan.https://linktr.ee/em4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini