
Para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Somya Pertiwi di Kawasan Warisan Budaya Dunia (WBD) Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali, merasa mantap untuk terus mengembangkan pertanian organik, karena telah terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan petani.
Pertanian organik dinilai sebagai jawaban atas pertanian yang ramah lingkungan dan hal tersebut juga sejalan dengan nama kelompok tani ini. “Somya artinya keseimbangan, sedangkan pertiwi berarti bumi. Jadi, kami berpikir bagaimana agar bumi ini seimbang sehingga lingkungan menjadi lestari,” kata I Nengah Suarsana SH selaku Ketua Kelompok Padi Organik Somya Pertiwi.
Suarsana menuturkan telah menekuni dunia pertanian sejak tahun 2004 dengan beras merah sebagai komoditas utama. Areal pertanian yang ditanami semula seluas 15 hektare, namun seiring dengan tingginya permintaan pasar akan beras organik, kini telah berkembang menjadi 66 hektare. Sedangkan produktivitas per hektare mencapai 6-7 ton gabah kering panen.
“Tren pasar terkait produk-produk pertanian organik, sampai saat ini luar biasa meningkat,” ujar Suarsana yang juga dipercaya sebagai Ketua Pengelola Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) ini saat berbincang dengan tim YouTube EM Indonesia Official.
Diakui Suarsana, ia dan para petani setempat tidak langsung terjun ke pertanian organik. Mereka terus mencoba berbagai metode pertani hingga menemukan pola yang tepat. Awalnya para petani masih menggunakan sebagian pupuk organik dan sebagian pupuk kimia, selanjutnya penggunaan pupuk kimia dikurangi secara bertahap.
Menurut dia, banyak petani setempat yang sebelumnya sempat meragukan dan menolak untuk mengembangkan pertanian organik karena dianggap tidak menjanjikan dan prosesnya lebih lambat. Tetapi, dengan berbekal semangat untuk mewujudkan pertanian yang berkelanjutan, upaya menuju pertanian organik terus dilakukan.
Untuk pembuatan pupuk organik, para petani lebih banyak menggunakan kotoran sapi. Untuk mempercepat proses pembuatan pupuk organik padat ini, mereka menggunakan produk Effective Microorganisms 4 (EM4). “EM4 ini sebagai biostarter untuk mempercepat proses pembuatan pupuk,” ucap suami Ni Wayan Armini. Penggunaan produk EM4 ini ternyata memberikan dampak tanaman menjadi lebih kuat, lebih tahan terhadap perubahan cuaca serta mampu menghasilkan padi dengan kualitas yang lebih baik.
Selain menggunakan pupuk padat dari kotoran sapi, kelompok tani ini juga menggunakan pupuk organik cair. Mereka mengaku banyak mendapatkan pelatihan dan pendampingan dari pemerintah untuk terkait cara untuk membuat pupuk organik padat dan cair.
Beras organik produksi Somya Pertiwi telah dipasarkan ke berbagai wilayah terutama Bali dan Jakarta. Menurut dia, dalam penentuan harga gabah telah berdasarkan hasil kesepakatan antara petani dan pembeli, sehingga petani bisa mendapatkan harga yang layak dan bahkan membuat mereka tersenyum karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
“Kami berharap pemuda-pemuda Bali tidak ragu untuk melirik pertanian. Khususnya melalui pertanian organik, sudah tentu kesejahteraan petani akan terangkat. Pertanian yang dikembangkan seyogyanya terintegrasi pula dengan sektor pariwisata sehingga dapat memberikan hasil yang lebih maksimal,” kata sosok ayah tiga orang anak ini.https://linktr.ee/em4
