Instruktur EM: Hasilkan Pangan Sehat Jadi Cikal Bakal Pertanian Organik

0
137
Staf Ahli PT Songgolangit Persada, I Gusti Ketut Riksa menyampaikan materi terkait teknologi EM4 dalam sebuah seminar melalui aplikasi Zoom.

Seorang spiritual terkemuka di Jepang Mokichi Okada sejak awal menganjurkan pemerintahannya mengembangkan teknologi pertanian memenuhi lima syarat utama menghasilkan pangan sehat untuk meningkatkan umur harapan hidup yang menjadi cikal bakal pertanian organik.

“Kelima syarat utama terdiri atas menghasilkan produk pangan yang dapat meningkatkan kesehatan manusia, menguntungkan secara material dan spiritual bagi produsen maupun konsumen,” kata Instruktur Effective Microorganisms 4 (EM4) pada Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) Bali, Ir. I Gusti Ketut Riksa.

IPSA Bali di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng didirikan oleh Direktur Utama PT Songgolangit Persada, agen tunggal yang memproduksi dan memasarkan EM4 pertanian, EM4 perikanan,EM4 peternakan, EM4 limbah dan EM4 toilet ke seluruh daerah di Indonesia yang mendapat lisensi dari EMRO Jepang.

IPSA Bali sejak dibangun tahun 1997, atau 27 tahun silam aktif mencetak pertanian organik berbasis EM4 dari berbagai daerah di Indonesia untuk dikembangkan di daerahnya masing-masing hingga kini sudah menjangkau ribuan orang.

Pertanian organik berbasis teknologi EM yang ditemukan Guru Besar Bidang Hortikultura University of The Ryukyus Okinawa, Jepang Prof. DR. Teruo Higa tahun 1980, dengan penelitian selama 12 tahun.

Pertanian organik berbasis teknologi EM dapat menghasilkan produk pangan secara berkesinambungan dengan mudah yang dapat dilakukan oleh semua orang serta menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan.

Gusti Ketut Riksa menambahkan, pertanian organik berbasis teknologi EM mampu memenuhi pebutuhan pangan yang sehat dan aman bagi penduduk dunia yang populasinya semakin bertambah.

Mokichi Okada dengan statemen yang sering mengundang perhatian para ahli dan orang banyak antara lain, “hanya tanah yang sehat dapat memberikan kesehatan kepada tanaman, dan  tanaman yang sehat mampu memberikan kesehatan kepada manusia dan hewan”.

“Tanah-tanah kita sekarang dalam kondisi sudah sakit bahkan sudah sakit keras. Selain mengandung kimia berbahaya, kandungan bahan organik tanah menurun darastis, kandungan nurisi tanaman pun mengalami banyak penurunan,” tutur Gusti Ketut Riksa.

Kekebalan manusia tidak seperti dulu lagi, hal itu sulit mempertahankan, disertai dengan kualitas lingkungan yang terus menurun. Berkat pernyataan yang keras dan kontrofersial, Mokichi Okada  mulai dikucilkan di Jepang oleh akademisi, birokrasi dan petani, ahirnya tahun 1934 beliau  hijrah ke Korea Utara.

Mokichi Okada di sana mengembangkan pahamnya. Sebenarnya banyak kalangan yang membenarkan pendapatnya, namun karena telah merupakan sanksi orang banyak, saat itu pula beliau pergi meninggalkan Jepang.

Beliau meninggal di tahun 1953 dikuburkan di Jepang dan sekarang banyak orang yang berziarah ke makamnya. Hal ini tidak sesuai lagi dengan pribahasa “habis manis sepah dibuang namun yang terjadi ialah sebaliknya, yakni dibenci sewaktu hidup, sesudah mati barulah zasadnya yang dihormati.

Tentang hutang-hutangnya beliau pun sangat heran, karena saat beliau beralih ke organik banyak uang yang mengalir kerkeningnya. Mokichi Okada sangat mensyukuri anugrah Tuhan Yang Maha Esa, mengapa terkumpul uang sebanyak itu sampai hutang-hutangnya terbayar semuanya.

Hal-hal inilah yang menyebabkan beliau semakin terkenal, rupa-rupanya ada energi yang tidak kasat mata telah menolongnya. Sekarang banyak orang berpendapat bahwa Kyu Sei Natur Farming ala Jepang dianggap cikal bakal pertanian organik, ujar Gusti Ketut Riksa.https://linktr.ee/em4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini