Pertanian Organik Berbasis EM Perbaiki Kualitas Tanah

0
127
Seorang pekerja sedang memanen buah cabai yang dibudidayakan secara organik menggunakan produk EM4 di Sulham Farm, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Instruktur Effective Microorganisms 4 (EM4) pada Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) Bali, Ir. Gusti Ketut Riksa menilai, tanah pertanian di setiap lokasi sangat variatif menyangkut kandungan nutrisi maupun karakteristiknya, sehingga kondisinya tidak sama.

“Ada tanah yang asam, alkalis, berstruktur liat atau berpasir sehingga untuk menanam berbagai jenis tumbuhan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia memerlukan banyak air atau sebaliknya ada tanah yang justru sulit dikeringkan,” tutur Gusti Ketut Riksa yang juga staf Ahli PT Songgolangit Persada (SLP), Sebuah Perusahaan Swasta Nasional yang didirikan Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr, alumnus Faculty Agriculture University of The Ryukyus Okinawa, Jepang (1987-1990).

Agen tunggal di Indonesia yang memproduksi dan menjual EM4 pertanian, EM4 perikanan, EM4 peternakan dan EM4 limbah ke seluruh daerah di Nusnatara yang mendapat lisensi dari EM Research Organization (EMRO) Jepang secara bertahap dapat merubah karakter lahan itu menuju kearah yang seimbang.

Ia mengatakan, berkat sentuhan teknologi EM hasil temuan Prof. Dr. Teruo Higa, guru besar bidang hortikultura Universitas Ryukyus Okinawa, Jepang, tanah pertanian yang asam dapat dirubah menjadi neutral yang alkalis.

Demikian pula mampu merubah tanah pertanian yang asam menuju neutral atau merubah tanah-tanah pertanian yang tidak seimbang (tidak balance) menjadi tanah-tanah yang baik dan subur untuk pertanian.

Petani di berbagai daerah di Indonesia mulai mengembangkan pertanian organik berbasis teknologi EM hasil temuan Prof. Teruo Higa dari Jepang identik dengan gerakan pertanian yang kembali ke alam.

Pertanian organik mampu menghasilkan bahan pangan yang aman, sehat untuk meningkatkan umur harapan hidup, sekaligus membatasi ketergantungan petani terhadap pupuk anorganik dan bahan kimia pertanian lainnya.

Pertanian organik ramah lingkungan menghasilkan produksi tanaman yang berkelanjutan, dengan cara memperbaiki kesuburan tanah melalui penggunaan sumberdaya alami seperti mendaur ulang limbah pertanin.

Gulma, hama dan penyakit tanaman dikelola melalui pergiliran tanaman, pertanian campuran, bioherbisida, insektisida organik yang dikombinasikan dengan pengelolaan tanaman yang baik.

Pupuk anorganik yang selalu digunakan petani dapat diganti dengan pupuk organik yang dapat dibuat sendiri dari bahan-bahan alami seperti penggunaan pupuk bahan organik kaya akan sumber hidup (Bokashi) yang dapat dibuat dari bahan jerami dan sampah rumah tangga.

Berdasarkan hasil penelitian, jika pertanian organik dapat dilaksanakan dengan baik, dengan cepat akan memulihkan tanah yang “sakit/kritis” akibat penggunaan bahan kimia petanian. Hal ini terjadi jika fauna tanah dan mikroorganisme yang bermanfaat dipulihkan kehidupannya, dan kualitas tanah dapat ditingkatkan dengan pemberian bahan organik, maka akan terjadi perubahan sifat fisik, kimia dan biologi tanah ke arah keseimbangan.https://linktr.ee/em4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini