Dua Puluh Langkah Teknologi EM (1)

0
134
I Gusti Ketut Riksa, Staf Ahli PT Songgolangit Persada saat memberikan pelatihan pertanian organik di IPSA.

Oleh: Ir. I Gusti Ketut Riksa *)

Saya adalah anak dari seorang petani tradisional yang dilahirkan tidak jauh dari kaki suatu perbukitan di Bali. Sekitar 70 tahun yang silam masih segar dalam ingatan, saya  sempat menikmati kehidupan yang tentram dan sejahtera meskipun kehidupan itu dalam kesederhanaan.

Waktu itu sudah menjadi kebiasaan dari ibu saya selalu mengumpulkan sampah-sampah rumah tangga seperti sampah dapur, sisa-sisa makanan, kotoran babi, sekam, abu dan arang untuk dibawa ke sawah pada sore harinya, dan di sawah juga memelihara dua ekor sapi untuk membantu membajak dan  dimanfaatkan kotorannya.

Sepulangnya ibu dari sawah selalu membawa gonde, biah-biah, genjer (bahasa Bali) untuk disayur, terkadang membawa serangga sawah, orang Bali menyebutnya kelipes, kecucutan, belauk, kokak, orong-orong, belalang dan lain-lain. Semua itu untuk bahan santapan malam. Semua bahan pangan itu bisa diperoleh secara gratis, terasa gurih  tanpa kolestrol dan tanpa residu kimia.

Ibu juga mangambil air minum untuk semua keluarga dari sungai kemudian disimpan dalam gentong di dapur untuk diminum setiap harinya, tanpa ada pikiran was-was. Jika  saya kehausan di sawah, saya petik sebatang pohon padi sebagai pipet dan mencari bekas injakan sapi yang berisi air, dengan tidak ragu-ragu saya meneguknya. Sekarang semua kemudahan itu telah sirna.

Pada saat sawah diberokan kelihatan banyak ada onggokan sampah bertebaran di tengah sawah; disaat pengolahan tanah, sampah sampah organik itu ikut terkena bajak dan selanjutnya bercampur dengan tanah olahan. Keadaan ini berlangsung secara terus menerus. Dengan demikian selalu ada asupan bahan organik ke dalam tanah sawah.

Saat mengolah tanah orang tua saya selalu kelihatan menambah ketinggian pematang sawah karena volume tanah olah ikut mengembang. Apabila hal ini tidak dilakukan hawatir air irigasinya menjadi dangkal karena airnya akan meluber.

Bila hujan lebat, ayah tergesa gasa ke sawah untuk memasukkan banjir beserta lumpurnya ke dalam sawah, beliau tahu benar bahwa lumpur itu sangat subur. Beberapa kesimpulan cara bertani tradisional itu: Solum tanah menjadi dalam, pisik, kimia dan biologi tanah selalu bertambah baik, kandungan bahan organik tinggi, produksinyapun selalu bertambah. Ingatlah kandungan bahan organik berbanding lurus dengan  produksi.

Bumi semakin rusak

Bila sekarang menghidupkan televisi selalu tersiar adanya bencana alam seperti hujan lebat, banjir bandang, tanah longsor, angin topan, kebakaran hutan, gempa bumi, gunung meletus, lumpur Lapindo, sunami, kelaparan, peperangan, penyakit baru terus bermunculan bahkan sekarang  pandemi Covid 19 yang baru saja mereda.

ySaya merasakan bahwa intensitas dan frekwensinya selalu  mengalami peningkatan. Semua ini sangat meresahkan dan tidak dapat diramalkan kapan akan berakhir; saya juga merasakan sangat berbeda dengan 70 tahun yang lalu.

Konferensi lingkungan sedunia.

Ternyata bukan hanya saya saja yang merasakan keresahan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun merasakan hal yang sama. Salah satu yang dilaksanakan lembaga dunia itu ialah menyelenggarakan konferensi lingkungan bertaraf internasional. Konferensi ini telah digelar pada tahun 1992 yang dihadiri oleh 600 orang penerima hadiah Nobel yang berasal dari 71 negara.

Para ahli itu menyarankan kepada umat manusia sedunia, dan saran itu dikenal dengan nama “World Scientist’s Worning to Humanity”. Bunyi seruan itu dalam bahasa Indonesia kurang lebih  sbb :  “Tahukah anda bahwa manusia dan bumi sekarang sedang dalam perjalanan menuju kehancuran; apabila manusia tidak ingin melihat kerusakan bumi yang berdemensi luas, dan bila manusia tidak ingin kehilangan rumahnya yang tidak dapat diperbaiki lagi, maka manusia harus merubah tata kelolanya terhadap bumi dan merubah cara hidupnya di atas bumi”.

Rupanya seruan itu menyindir lembaga dan orang-orang kaya yang menguras habis habisan isi perut bumi, menguras isi laut dan hutan serta mengumbar pestisida sewenang-wenang tanpa henti disektor pertanian. Mereka lupa jika  kayu, rotan,dikuras habis, hutanpun ikut hilang. Bukankah Mahatma Gandi mengatakan: bahwa harta ini sebenarnya cukup untuk semua orang, tapi tidak cukup bagi seorang yang rakus.

*) Staf Ahli PT Songgolangit Persada dan Instruktur EM4 Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) Bali.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini