Teknologi EM Kembalikan Kekuatan Biologis Lahan Pertanian

0
111
Dua mahasiswi dari Universitas Udayana menunjukkan produk EM4 yang diterapkan dalam bidang pertanian.

Oleh: Ketut Sutika

Aktivitas dalam bidang pertanian sejak umat manusia mulai belajar menanam dan kehidupannya sangat tergantung dari ketersediaan pangan melalui usaha bertani.

Budidaya pertanian itu terus dilakukan secara terus menerus, bahkan usaha industri pangan, obat, kayu, karet, menggenjot produksi bahan bakunya dengan pertanian, perkebunan modern, menggunakan pestisida dan pupuk kimia.

Petani modern juga memaksimalkan produksi dengan tujuan memperoleh keuntungan,  ketersediaan pangan dan bahan baku industri pangan.

“Selama kurun waktu 50 tahun, sejak 1950, penggunaan pupuk dan pestisida kimia menunjukkan dampak  terhadap lingkungan, tanah, air dan udara menjadi tercemaran yang berpengaruh terhadap kehidupan  manusia berupa penyakit kanker, menurunnya  imun tubuh dan  penyakit degeneratif lainnya,” tutur Direktur Utama PT Songgolangit Persada, Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr yang juga pakar dan pelopor pertanian organik di Indonesia.

Alumnus Faculty Agriculture University of The Ryukyus Okinawa Jepang,  itu sejak dini telah memprediksi akan terjadi krisis energi dan lingkungan yang kurang bagus akan berpengaruh terhadap produksi pertanian, sehingga pangan yang menjadi kebutuhan umat manusia menjadi semakin langka dan nilainya mahal.

Guna mengurangi dampak kimia terhadap kerusakan lingkungan, manusia mengusahakan pengurangan penggunaan pupuk dan pestisida kimia, dengan teknologi pertanian organik, yakni  menggunakan lebih banyak bahan organik, pupuk organik, dan probiotik (mikroorganisme yang menguntungkan tanaman).

Penelitian probiotik mengalami perkembangan pesat sejak tahun 1990, bahkan mulai tahun 2000 mendapat suatu keyakinan dari ahli dan praktisi pertanian, bahwa probiotik dan bahan organik sangat penting untuk mengembalikan kekuatan biologis tanah, tanah menjadi sehat, subur dan produktif, walau penggunaan pupuk kimia dikurangi sampai 50%, bahkan dalam kondisi pertanian organik murni.

Prof. Dr. Teruo Higa, guru besar bidang hortikultura University of The Ryukyus, Okinawa, Jepang tahun 1980 menemukan formula Effective Microorganisms (EM) untuk menyuburkan tanah.

EM bekerja dengan memfermentasi bahan organik yang ada, diberikan ke dalam tanah, sehingga lahan peranian dan perkebunan menjadi subur.

Mikroorganisme EM juga mampu meningkatkan populasi mikroorganisme lokal yang menguntungkan lainnya di dalam tanah.

Dengan cara kerja tersebut, tanah menjadi lebih gembur, lebih subur, lebih dalam perakaran tanamannya. Secara biologis, tanah yang diberikan EM akan memiliki kekuatan untuk menekan perkembangan penyakit tanaman (dissease suppresive soil) dan tanah bisa menyediakan senyawa organik fermentasi (zymogenic soil) untuk akar tanaman.

Cara kerja EM dalam tanah tersebut mampu mengembalikan kekuatan (power) tanah secara biologis dengan teknologi pertanian organik, sehingga tanah menjadi sehat dan tanamanpun tumbuh menjadi subur dan hasil panen yang malimpah.

Bertani Kembali ke Alam

Sementara seorang petani di Garut, Jawa Barat, Adri Susilo  yang sudah puluhan tahun berpengalaman menggunakan  pupuk hayati EM4 mengaku, untuk memperbaiki struktur tanah akibat penggunaan pupuk dan festisida kimia secara terus menerus dalam jangka waktu  panjang, sebaiknya kembali ke alam menggunakan pupuk organik, tanpa sentuhan zat kimia.

“Kami bersama seluruh anggota kelompok Tani Jati Emas, Desa Jati, Kecamatan Tarogong Kaler, Garut  sepakat menggunakan pupuk organik kembali ke alam untuk  menggarap tanah pertanian, mengembangkan  peternakan dan perikanan secara  ramah lingkungan,” tutur Andi Susilo (38 tahun)  yang juga ketua kelompok tani tersebut.

Ratusan bahkan hampir semua petani setempat dulu menggunakan  aplikasi pupuk kimia tidak secara  teratur karena  ingin memperoleh hasil pertanian yang  maksimal, sehingga  menggunakan pupuk kimia sebanyak mungkin.

Panen pertama hasilnya memang banyak, namun panen berikutnya produksi merosot  menyusul panen-panen selanjutnya  sangat sedikit bahkan gagal akibat rusaknya kondisi tanah karena  penggunaan pupuk kimia, tutur  Andri Susilo saat menerima kunjungan tim youtube EM Indonesia offiseal, baru-baru ini.

Untuk itu semua anggota kelompok Tani Jati Emas sepakat kembali ke alam dengan menggunakan pupuk organik untuk pertanian padi maupun tanaman hortikultura dengan menggunakan EM yakni teknologi  yang mudah, murah, hemat energi, ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Seluruh anggota kelompok tani yang  menggarap lahan pertanian cukup luas, termasuk melakukan budidaya ikan nila, karper, lele  dan ternak sapi, domba menggunakan sentuhan teknologi EM.

Seluruh anggota kelompok setiap bulan mengadakan pertemuan silaturahmi dengan tempat yang berpindah-pindah bisa di balai kelompok tani maupun di rumah salah seorang petani untuk  tukar menukar informasi dalam penggunaan aplikasi EM untuk pertanian, perikanan dan peternakan.

Aplikasi EM

Andri Susilo menjelaskan dari hasil pertemuan tukar menukar informasi dan praktek langsung di lapangan seluruh anggota kelompok tani Jati Emas  sudah mampu membuat pupuk organik padat maupun pupuk organik cair (POC).

Membuat pupuk organik padat dari bahan limbah organik, kotoran sapi, domba, EM4, molase, air gula merah yang sudah dicairkan dan dedak halus yang semuanya dicampur dalam satu tempat tertutup.

Bahan-bahan yang diperlukan pupuk kandang  50-100 kg,  dedak halus  10 kg,  dedak kasar  20 kg,  EM4 1 liter,  air, mulase campuran gula dicairkan, 1 kg gula   semuanya dicampur dalam wadah tertutup selama  dua minggu.

Selama kurun waktu 14 hari itu perkembangnya terus dipantau, jika suhu udara sudah dingin dalam bokashi berarti pupuk organik sudah jadi dan siap diaplikasikan ke tanaman.

Fermentasi pupuk organik tersebut dapat dilakukan secara berulang-ulang sesuai dengan kebutuhan tanaman padi maupun tanaman hortikultura, tutur Andri Susilo.

Sedangkan untuk pembuatan pupuk organik cair (POC) biasa menggunakan  drum berkapasitas  200 liter dengan bahan-bahan  kotoran domba  1 karung,  EM4 1 liter, gula 1 kg, bisa mengambil dari tambahan buat asam aminonya dari keong atau bangkai ikan terus campur , aduk setiap hari selama  2-3 minggu.

Kalau tidak diaduk drum  tempat pembuatan POC itu  dikhawatirkan bisa meledak , karena ada tekanan udara dari  pembuatan  POC itu, kalau sudah  tiga minggu  siap aplikasi  untuk tanaman lewat dicocor, disemprot sehingga tanaman daunnya menjadi hijau.

Untuk kembali ke pertanian organik dengan sentuhan teknologi EM cukup mudah dan murah, karena harga EM sangat terjangkau dan tersedia hingga ke pelosok pedesaan di seluruh nusantara.

Kembali ke pertanian organik  dengan menggunakan teknologi EM sangat menguntungkan, dibandingkan sekarang pupuk kimia harganya semakin melambung dan berpluktuasi di pasaran.

Oleh sebab itu petani, peternak, serta pembudidaya ikan dan tambak udang lebih baik kembali ke organik agar mendapat keuntungan dari analisa usahanya.

“Saya menyarankan seluruh petani dan masyarakat umum  lebih bijak dan sayang lagi  dengan  tanah pertanian, perkebunan terhadap penggunaan pupuk kimia,  mungkin  kalau jangka pendek benar terasa manfaatnya, tapi  kalau kaji lebih dalam lagi , justru  bukan keuntungan yang didapat , tapi kerusakan tanah menjadi tandus dan kering.

Oleh sebab itu  lebih bijaklah menggunakan pupuk kimia, alangkah baiknya  kembali lagi ke pertanian organik dengan sentuhan teknologi EM,” harap Andri Susilo.

Padi Tumbuh Subur

Sementara  Staf Ahli PT Songolangit persada, Ir. I Gusti Ketut Riksa menambahkan, tanaman padi di lahan sawah  yang dirawat dan dipelihara dengan menggunakan pupuk organik bokashi menjadi tumbuh subur dan mengalami panen pada saat tanaman padi daun benderanya masih hijau, berbeda dengan tanaman padi yang dipupuk  zat kimia saat dipanen daun-daunnya sudah mengering.

Dengan pertanian organik berbasis teknologi EM4, butir-butir gabah lebih mentes. Sentuhan teknologi EM mampu merubah lahan-lahan pertanian yang kurus dan penyakitan menjadi lahan subur yang zymogenic. Dengan teknologi EM, semakin lama lahan pertanian akan menjadi semakin baik dan subur.

Hal itu sangat berbeda dengan teknologi kimia yang menyebabkan lahan pertanian semakin lama semakin keras, semakin tipis, dan semakin kurus serta produktivitas tanah  yang terus menurun.

Teknologi EM dapat menggantikan  semua produk industri kimia pertanian yang bersifat polutif dengan biaya murah. Tutur Gusti Ketut Riksa. linktr.ee/pakolescom#EM4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini