Staf Ahli: EM Tingkatkan Kesuburan Tanah

0
30
Ir. I Gusti Ketut Riksa menunjukkan produk EM4 untuk pertanian.

Effective Microorganisms (EM), teknologi yang mudah, murah, hemat energi, ramah lingkungan dan berkelanjutan hasil temuan Prof. Dr. Teruo Higa, guru besar bidang hortikultura University of the Ryukyus Okinawa, Jepang tahun 1980 dapat meningkatkan kesuburan tanah.

“Teknologi EM dengan biaya murah itu dapat diterapkan secara meluas untuk menghasilkan produk pertanian berkualitas tinggi, aman dikonsumsi, sekaligus dapat meningkatkan kualitas mutu lingkungan,” kata Staf Ahli PT Songgolangit Persada, Ir. I Gusti Ketut Riksa.

Ia yang juga sebagai instruktur EM pada Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) Bali di Desa Bengkel, Busungbiu, Kabupaten Buleleng itu menambahkan, rekomendasi dari para ahli Kementerian Pertanian Amerika Serikat (USDA) diterima tahun 1982, dua tahun setelah Prof Higa memperkenalkan teknologi EM kepada para peneliti USDA.

Dalam pertemuan tersebut para ahli pertanian baru mengakui kebenaran maupun kehebatan temuan Prof Higa dan memberikan julukan, bahwa EM sebagai bakteri sakti dari Jepang.

“Saat itulah para ahli pertanian sepakat memperingati temuan Prof Higa dengan mendirikan Lembaga International Nature Farming Research Centre (INFRC) yang berkedudukan di Atami, Jepang,” tutur I Gusti Ketut Riksa.

Para ahli berbagai bidang, termasuk pertanian dan lingkungan dari Kawasan Asia Pasifik berkumpul di Saraburi, Bangkok, Thailand pada tahun 1989 untuk menyepakati mendirikan Asia Pasifik Nature Agriculture Network (APNAN) yang berbasis EM untuk mengembangkan pertanian organik.

Saat itu peserta dari Bali, Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr, alumnus Faculty Agriculture University of The Ryukyus Okinawa, Jepang mendaftarkan Indonesia menjadi anggota APNAN dengan nomor urut ke-15 untuk kawasan Asia Pasifik.

Gede Ngurah Wididana setahun kemudian yakni 1990 mendirikan sebuah yayasan dengan nama Indonesia Kyusei Nature Farming Sosiety (IKNFS). Dari yayasan IKNFS tersebut Gede Ngurah Wididana yang akrab disapa Pak Oles menilai sangat penting untuk segera mendirikan sebuah yayasan.

Untuk itu ia mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) Bali, sebagai pusat pendidikan dan pelatihan terpadu tentang teknologi EM.

Dari sejak berdiri hingga sekarang yayasan IPSA tetap berlokasi di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, daerah pesisir utara Pulau Bali. Bupati Buleleng Ketut Wiratha Sindu (alm) mewakili pemerintah untuk meresmikan kantor Yayasan IPSA Bali tahun 1997, atau 25 tahun yang silam, tutur Gusti Ketut Riksa.https://linktr.ee/em4 #EM4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini