Gusti Riksa Tekuni Aktivitas Pertanian Perkotaan

0
64
Ir. I Gusti Ketut Riksa, Staf Ahli PT Songgolangit Persada dalam sebuah aktifitas.

Sosok pria enerjik, sehat walafiat di usia senjanya itu menekuni aktivitas pertanian perkotaan selama 42 tahun sejak tahun 1980, ketika masih mahasiswa di Fakultas Pertanian Universitas Udayana.

“Saya lahir di desa sebagai petani, sekolah di pertanian (sekolah pertanian menengah atas-SPMA), kuliah di Fakultas Pertanian dan bekerja di Dinas Pertanian, sehingga aktivitas keseharian tidak bisa lepas dari pertanian,” tutur Staf Ahli PT Songgolangit Persada, Ir. I Gusti Ketut Riksa (79), yang juga mantan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangli, Bali.

Ia menuturkan, sejak pindah dari desa tempat kelahir di Bali utara ke Denpasar untuk menuntut ilmu, kebiasaan bertani organik tetap melekat dalam aktivitas keseharian, meskipun menggunakan lahan sempit dengan media pot.

Bertani di luar aktivitas perkantoran, meskipun telah bermukim di kota tidak bisa dilepaskan dari keseharian, karena bertani telah melekat dalam dirinya yang mampu memberikan kesenangan dan kebahagian.

Suami dari Jero Riksuini (66), tahun 1995 atau tiga tahun menjelang purna tigas (pensiun) mendapat rekomendasi dari Proyek Peningkatan Pendapatan Petani Kecil (P4K) dan atas persetujuan Pemerintah Kabupaten Bangli untuk mengikuti pelatihan dan pendidikan tentang teknologi Effective Microorganisme4 (EM4) di Saraburi, Bangkok yang mewilayahi Asia Fasifik.

Setelah mendapat ilmu baru tentang EM4 yang ditemukan Prof Teruo Higa, guru besar bidang hortikultura Univeritas Ryukyus Okinawa, Jepang, ayah dari empat putra-putri itu langsung memberikan penyuluhan dan membuat bokashi dengan Teknologi EM untuk para petani di Kabupaten Bangli.

Bangli saat itu merupakan yang pertama menerapkan pupuk ramah lingkungan hingga sekarang masih terus diterapkan untuk tanaman hortikultura, khususnya tanaman jeruk di kawasan Kintamani yang buahnya dikenal manis dan ukurannya besar-besar.

Gusti Ketut Riksa, sejak purna tugas dari pegawai negeri itu 20 tahun yahg silam itu bergabung dengan PT Songgolangit Persada (SLP) yang didirikan oleh Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr yang merupakan agen tunggal di Indonesia yang mendapat lisensi dari Effective Microorganisms Research Organization (EMRO) Jepang untuk memproduksi dan memasarkan pupuk hayati EM4 ke seluruh daerah di Nusantara.

Organik dan vegetarian

Gusti Ketut Riksa, Staf Ahli PT Songgolangit Persada dalam aktivitas keseharian di luar kantor hingga sekarang tetap menekuni aktivitas pertanian perkotaan (urban farming), kebetulan lahan pekarangannya di sekitar kawasan Kerobokan, Kabupaten Badung itu cukup mendukung.

Ia bersama istri dengan dibantu sejumlah cucunya mengembangkan berbagai jenis tanaman sayur mayur, tomat, mentimun, cabai, suladri, gencarum, empon-empon dan berbagai jenis keperluan dapur lainnya.

Hasil pertanian organik perkotaan dengan sentuhan teknologi EM yang diusahakan itu menjadi bahan utama dalam memenuhi kebutuhan makanan sehat yang bergizi bagi seluruh anggota kelaurga.

Gusti Ketut Riksa pria kelahiran 24 Nopember 1943 sejak aktif sebagai pegawai negeri (PNS) hingga sekarang menerapkan makanan vegetarian, hasil pertanian organik skala rumah tangga yang digelutinya terus menyambung tidak pernah putus.

Pakar Pertanian Organik Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr ketika tampil sebagai pembicara pada Seminar zoom mengusung tema “Pengembangan Pertanian Perkotaan” yang digelar Fakultas Pertanian Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Rabu (12/10) menampilkan sosok Gusti Ketut Riksa dalam aktivitas pertanian perkotaan dalam rekaman video.

Gusti Ketut Riksa menjelaskan, sejak selesai kuliah langsung kerja di Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali tidak pernah putus menggeluti usaha pertanian perkotaan.

“Pertanian adalah satu-satunya keahlian yang saya miliki mengembangkan berbagai jenis tanaman hias, sayur mayur, buah-buahan, ternak kelinci, burung jelatik, perkutut bangkok dan banyak jenis ikan hias dalam 50 aquarium dan ssejumlah kolam,” ujar Gusti Riksa.

Hampir setiap minggu, pihaknya menyemprotkan cairan EM ke seluruh pekarangan rumahnya yang menyatu dengan kebun, kandang ternak dan ikan dengan harapan semua jenis tumbuhan dan binatang piharannya sehat, terhindar dari serangan penyakit.
Penyemprotan EM itu sangat penting, karena anggota keluarga sering kali mengkonsumsi sayur, mentimun, tomat mentah yang dipetik di kebun menjelang makan, tutur Gusti Riksa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini