Pertanian Perkotaan Penuhi Kebutuhan Dapur dan Nyaman

0
34
Gede Ngurah Wididana menunjukan tanaman sayur hijau yang tumbuh subur dengan aplikasi Em4 di rooftop kantor.

Pembangunan pertanian perkotaan memanfaatkan lahan pekarangan masing-masing secara maksimal, atau menyiasati atap rumah, lantai paling atas (rooftop) untuk aktivitas pertanian akan mampu menciptakan kenyamanan dan mengurangi panas dari terik matahari.

“Berbagai jenis komoditas pertanian dapat dikembangkan untuk memenuhu kebutuhan dampur sehari-hari sehingga masyarakat kota dapat lebih nyaman dan sejahtera,” kata Direktur Utama PT Songgolangit Persada, Dr. Ir. Gede Ngurah Wididaa, M.Agr yang bernaung di bawah PT Karya Pak Oles Grup baru-baru ini.

Dr. Widi yang akrab disapa Pak Oles juga menjabat sebagai dosen terbang Universitas Nasional (Unas) Jakarta mengungkapkan hal itu ketika memberi pembekalan “Pembangunan Pertanian Perkotaan Mewujudkan Kemandirian Pangan dan kehidupan yang sejuk” secara online kepada mahasiswa dan dosen yang dipandu Ir, Inkorena GS Sukartono, M.Agr.

Alumnus Faculty Agriculture University of The Ryukyus, Okinawa Jepang itu menjelaskan, pertanian perkotaan yang melibatkan seluruh warga kota akan mampu menjadi sumber ekonomi, memberikan kehidupan yang layak dan kehidupan yang lebih sejahtera.

Pengembangan pertanian organik perkotaan dengan menggunakan media pot, polibeg atau media dari barang bekas lainnya juga dapat menyalurkan bakat (hobi), menghilangkan kejenuhan dari aktivitas keseharian.

“Tanamn yang hijau dan rindang secara tidak langsung akan dapat menghilangkan rasa sumpek, tegang sehingga menjadi kehidupan yang nyaman dan sejahtera,” ujar Dr. Widi.
Sosok pria enerjik yang dikenal sebagai pelopor pertanian organik yakni memproduksi pupuk hayati Effective Microorganisms (EM4) pertanian, perkebunan, perikanan dan EM4 limbah mengatasi pencemaran itu menekankan, pemanfaatan sumber daya pertanian organik perkotaan dapat dikelola dengan baik.

Jalur hijau di perkotaan yang umumnya tanah-tanah yang dikuasai oleh negara dapat disewakan kepada petani dengan harga yang murah untuk mendukung pembangunan pertanian organik.

Petani yang menggarap lahan jalur hijau selain biaya sewanya murah juga mendapat sumbsidi dan kemudahan dari pemerintah, sehingga petani dapat melakukan proses produksi pertanian dengan baik dan lancar.

Upaya tersebut mampu menjadilan lahan jalur hijau sebagai pusat rekreasi, untuk melakukan kegiatan olahraga bagi masyarakat kota dan pulangnya mereka membeli hasil pertanian organik dari petani penggarap.

“Di kota Denpasar tanah-tanah yang dikuasai oleh desa adat (kelompok) yang tidak boleh dijual, dikembangkan sebagai tempat rekresi, jalan-jalan menikmati hamparan sawah dan komoditas pertanian lainnya,” ujar Dr. Widi.

Pengelolaan dengan manajemen yang baik antara lain dibuatkan treking, tempat parkir yang luas, warung yang menghidangkan berbagai jenis menu , lomba mancing maupun menyuguhkan pemandangan yang indah untuk kegiatan selfie dan prewedding.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini