IPSA Bali Tamatkan 6.000 Peserta Bersertifikat

0
40
Ketut Jadiasa (kanan) saat menjelaskan cara pembuatan EM aktif, pembuatan pupuk organik cair dan padat menggunakan teknologi EM4 kepada peserta pelatihan pertanian organik terpadu di IPSA.

Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) Bali yang dikenal sebagai Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) pertanian organik dan teknologi  Effective Microorganisms (EM4) telah menamatkan 6.000 peserta yang bersertifikat dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari Malaysia.

“Mereka umumnya dari karyawan instansi pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan perusahaan swasta yang menjelang purna tugas untuk mendalami pertanian organik dan teknologi EM dengan harapan dapat menerapkan setelah mereka menjalani masa  pensiun,” kata Instruktur EM Yayasan Gede Ngurah Wididana (GNW), Ir. I Gusti Ketut Riksa yang  juga staf Ahli PT Songgolangit Persada.

Ia menjelaskan,selain peserta yang mengikuti pelatihan pertanian organik tersebut, juga tercatat sekitar 10.000 orang  sempat mengadakan studi banding ke IPSA Bali untuk mengenal teknologi EM dan tanaman langka berkhasiat obat yang berhasil dikoleksi Gede Ngurah Wididana yang akrab disapa Pak Oles.

Ratusan jenis tanaman herbal berkhasiat obat di atas hampara lahan seluas 7 hektar di Desa Bengkel, Busungbiu, Kabupaten Buleleng yang dipelihara secara organik dengan  pupuk padat Bokashi Kotaku dan pupuk hayati EM4 merupakan sumber bahan baku  berbagai jenis Produk Ramuan Pak Oles yang bernaung di bawah PT Karya Pak Oles Tokcer, sebuah perusahaan swasta nasional yang  berbasis obat-obatan tradisional terbesar di Bali.

Sedangkan PT Songgolangit Persada milik Pak Oles merupakan agen tunggal di Indonesia yang mendapat lisensi dari EMRO Research Organization (EMRO) Jepang untuk memproduksi dan memasarkan EM4 pertanian, EM peternakan, EM4 Perikanan dan EM4 limbah ke seluruh daerah di Nusantara.

Ketut Mupumerta, seorang peternakan ayam ras, babi dan sapi di Desa Sala, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli  mengaku, bahwa usaha peternakan miliknya mengalami kemajuan pesat setelah mengikuti pelatihan teknologi EM tahun 1995.

Selumnya ia menerapkan teknologi kimia, sanitasi kandang dengan desinfektan kimia dan pengobatan dengan antibiotika. Dengan teknologi kimia sebutnya kandang berbau busuk, air limbah kandang yang tercecer ke sawah menyebabkan petani mengeluh karena kaki mereka terasa gatal.

Hal itu berbeda ketika mulai menggunakan EM, kandang ternak menjadi tidak berbau, petani di sekitarnya menyadap limbah ternak, karena limbah itu ditenggarai menyuburkan tanah, semua ternak jarang sakit dan penggunaan antibiotik sangat minim.

Kotoran padat tanpa pengolahan khusus sudah bisa laku terjual setelah disulap karena petani menganggap kootoran ternak mereka sudah sama dengan pupuk bokashi yang berkualitas baik, tutur Gusti Ketut Riksa.

linktr.ee/em4  #IPSABali #EM4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini