Staf Ahli: Revitalisasi laut Dengan EM

0
43
EM4 Perikanan berguna untuk memfermentasi sisa pakan, kotoran di dasar kolam dan menguraikan gas-gas amoniak, metan dan hydrogen sulfida.

Teknologi Effective Microorganisms (EM) dapat dimanfaatkan untuk mengatasi pencemaran perairan laut akibat limbah industri dan sisa-sisa pestisida yang hanyut ke dasar laut untuk berlangsur-angsur memperbaiki kondisi yang rusak menjadi pulih kembali seperti sedia kala.

“Kehidupan mikroba di setiap strata bawah akan mulai tervitalisasi, proses fermentasi mulai berlangsung untuk membuat nutrisi yang diperlukan oleh makluk hidup yang lain di perairan laut,” kata Staf Ahli PT. Songgolangit Persada, Ir. I Gusti Ketut Riksa.

PT. Songgolangit Persada didirikan oleh Direktur Utama perusahaan tersebut Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M. Agr yang merupakan satu-satunya di Indonesia sebagai agen tunggal yang memproduksi dan memasarkan pupuk hayati EM4 pertanian, peternakan, perikanan dan EM4 limbah untuk menangani pencemaran yang mendapat lisensi dari EM Research Organization (EMRO) Jepang.

Gusti Ketut Riksa yang juga instruktur EM pelatihan pertanian organik pada Yayasan Gede Ngurah Wididana (GNW) di Desa Bengkel, Busungbiu, Kabupaten Buleleng itu menambahkan, dengan teknologi yang mudah, murah, hemat energi, ramah lingkungan dan berkelanjutan itu menjadikan ikan, udang dan kerang-kerangan mulai berdatangan guna menyambung hidupnya.

Budidaya rumput laut, kerang mutiara, ikan kerapu dan ratusan jenis ikan laut lainnya dengan menggunakan EM mud ball yakni lumpur tanah yang difermentasi EM yang berbentuk bulatan sebesar bola tenis dilempar ke dasar laut untuk meningkatkan produksi flora dan fauna di dasar laut.

Di dasar dan lautan lepas terdapat kehidupan yang beragam, disrata atas hidup ikan, udang, kerang, zooplankton maupun phytoplankton. Di strata paling bawah dihuni oleh mikroba. zooplankton maupun phytoplankton dimakan oleh ikan dan udang saling memangsa.

Sisa-sisa bangkai yang ditinggal, diurai oleh mikroba dan hasil penguraian tersebut kembali menjadi nutrisi yang diperlukan oleh semua kehidupan di dalam laut, sehingga kehidupan makluk hidup di laut kembali seperti sendia kala.

Gusti Ketut Riksa menjelaskan, jika tidak ada gangguan berupa pencemaran limbah kimia yang bisa memutus siklus itu, pencemaran di lautan sebenarnya tidak akan terjadi, air laut tetap jernih dan semua makluk hidup dapat melanjutkan kehidupannya.

Demikian pula air laut tidak akan keruh, tidak berbau busuk, meskipun semua limbah organik termasuk bangkai binatang berkumpul di dalam laut, tutur Gusti Riksa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini