Manajemen Nato (No Action Talk Only)

0
18
Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr Direktur Utama PT. Karya Pak Oles Grup.

Oleh: Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr *)
Suatu rencana kerja yang dipikirkan, dicanangkan, dirapatkan dengan serius dan detil, jika tidak diterapkan, akan menghasilkan angin, hanya suaranya saja yang bedesir, kemudian menghilang. Begitu nasihat bapak saya yang selalu saya ingat waktu saya SMP.

Semasa umur saya itu, saya memiliki kebiasaan aneh menurut bapak saya, yaitu suka merencanakan, tapi tidak memiliki keberanian untuk mengeksekusi rencana tersebut, terus terang, karena saya agak malas dan lebih suka membicarakan rencana, misalnya: bagaimana seandainya rencananya menjadi begini atau begitu, kemudian akan menghasilkan ini atau itu, bagaimana kalau tidak demikian, tidak sesuai rencana, dengan seribu satu angan dan kemungkinan, yang menghasilkan perdebatan panjang di dalam pikiran dan keragu-raguan bertindak.

Contohnya adalah saat saya berkeinginan mengikuti latihan silat, kursus musik, les matematika, pramuka, kemping, dan sebagainya, yang tidak saya kerjakan, karena saya terlalu sibuk merencanakan, dan waktu saya habis untuk merencanakan, bahkan sampai mengganggu nyenyaknya tidur.Akhirnya pada suatu hari, bapak saya mendudukkan saya dengan memberikan hadiah yang tak terlupakan sampai sekarang, dia memberikan hadiah nasihat sambil menatap mata saya, “Kerjakan apa yang kamu rencanakan. Rencana tidak akan berhasil jika hanya direncanakan saja. Kerjakan sekarang. Mengerjakan rencana diperlukan keberanian memulai dan ketekunan untuk melanjutkan.”

Nasihat itu selalu terngiang saat saya memiliki rencana, dan saya selalu ingin mengerjakannya sekarang, dan itu menjadi kebiasaan buruk saya di saat saya dewasa, karena saya pasti mengerjakan apa yang saya rencanakan, walaupun banyak orang yang tidak setuju. Untuk mengatasi akibat dari kebiasaan buruk tersebut, maka saya harus juga mendiskusikan dan memikirkan suatu rencana dengan matang, sebelum mengerjakannya, dan siap mengubah rencana sesuai dengan kondisi di lapangan untuk mencapai tujuan.

Saat saya memulai usaha, saya berumur tiga puluhan tahun, saya paling terpesona dengan kepintaran seorang/kelompok ahli saat berdiskusi, berdebat, atau mempresentasikan proposal atau rencana kerja. Staf ahli atau lebih keren disebut sebagai konsultan, mereka digaji besar untuk suatu proyek, dan saya sebagai pengusaha tidak digaji, tidak mendapatkan upah apapun, kecuali saya berhasil menjual produk yang digunakan di dalam proyek, atau saya berhasil menjalankan proyek yang didiskusikan.

Sampai pusing saya diajak berdiskusi, rapat, workshop, seminar, dan dengar pendapat, sampai kantong saya kosong dan tenggorokan kering, akhirnya saya teringat dengan nasihat bapak saya waktu saya SMP, “Kerjakan rencanamu sekarang.” Saya ibarat nahkoda kapal, saya seorang diri merencanakan dan membayangkan tujuan pelayaran, dan tidak memiliki banyak waktu lagi untuk berdiskusi tentang rencana, kecuali membentangkan layar kapal danmengangkat sauh, seperti kata pepatah, “sekali layar terkembang, pantang langkah surut,” maka saya menjadi orang aneh di mata konsultan staf ahli, menjadi orang yang sibuk bekerja dengan sedikit rencana yang detil-detil, menjadi pribadi yang sedikit cuek dengan perdebatan dan diskusi, yang saya masukkan lewat telinga kiri dan segera dikeluarkan lewat telinga kanan, karena saya memiliki rencana sendiri yang siap saya kerjakan sekarang. Itulah efek samping dari nasihat bapak saya waktu saya SMP.

Setelah saya berumur empat puluh tahunan, saya sudah memiliki keahlian dalam mendengarkan, bisa membedakan orang atau kelompok orang yang pintar merencanakan, dan orang yang pintar menerapkan rencana, yang saya peroleh dari kumpulan pengalaman-pengalaman berdiskusi dan berorganisasi. Ciri-ciri dari orang yang pintar merencanakan adalah, mereka memiliki karakter banyak omong, banyak teori, dan sering kali teorinya susah dimengerti dan susah dipraktikkan. Ciri-ciri orang yang pintar menerapkan rencana adalah, mereka lebih banyak mendengar, sedikit berbicara, kecuali diminta, tidak suka membuang waktu untuk berdebat, memiliki niat dan perhatian yang kuat yang berhubungan dengan rencana, dan banyak mempraktikkan apa yang direncanakan.

Dengan mengetahui kedua ciri-ciri manusia yang memiliki banyak rencana dan yang memiliki banyak kerja, saya bisa terhindar dari orang yang melakukan manajemen NATO (No Action Talk Only), orang yang banyak omong tapi tidak bekerja, terhindar dari usaha orang lain untuk mengambil/ mencuri waktu saya yang sangat berharga. Nasihat bapak saya itu sangat berguna untuk menyaring dan menyerap informasi yang benar dan terpercaya untuk kemajuan diri, di tengah distorsi informasi yang serba cepat dan sering tidak akurat.
*) Direktur Utama PT Karya Pak Oles Group. linktr.ee/pakolescom

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini