Upaya mendorong pertanian yang lebih sehat, ramah lingkungan, dan berbasis teknologi dilakukan oleh tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Lampung (Unila) di Dusun 4, Desa Pematang Baru, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan. Melalui program bertajuk “Penyuluhan Tanaman Pisang Sehat dan Pengenalan Aplikasi Pendeteksi Hama dan Penyakit”, mahasiswa KKN memperkenalkan pemanfaatan pupuk organik berbasis EM4 sekaligus digitalisasi pertanian kepada para petani setempat.

Program ini diinisiasi oleh tim KKN Unila Desa Pematang Baru yang terdiri dari Muhammad Ijlal Muafa, Isnaini, Ahmad ’Alim Hudzaifah, Naldo Abdillah, Anisa Ensa Putri, Suprihatin, dan Faiza Raisa Rafania, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Azis Amriwan, S.Sos., M.Si.

Kegiatan penyuluhan dihadiri sekitar 30 petani, Ketua Gapoktan, Kepala Desa Pematang Baru, Sekretaris Desa, aparat desa, hingga Bhabinkamtibmas setempat. Narasumber utama adalah Naldo Abdillah (Agroteknologi 2022) dan Muhammad Ijlal Muafa (Proteksi Tanaman 2022).

Dalam materi penyuluhan, tim KKN menekankan bahaya penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus yang dapat menurunkan kesuburan tanah. Petani juga diperkenalkan pentingnya bahan organik untuk memperbaiki struktur dan kualitas tanah, salah satunya melalui pembuatan pupuk organik cair dari batang pisang.

Proses pembuatannya pun cukup sederhana. Batang pisang yang telah dicacah dicampur dengan air, molase, dan EM4, lalu difermentasi selama 7–14 hari. Hasil fermentasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang lebih ramah lingkungan dan membantu meningkatkan kesuburan tanah.

Tak hanya fokus pada pengolahan pupuk organik, tim KKN juga memperkenalkan aplikasi pertanian berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Plantik. Aplikasi ini membantu petani mendeteksi hama dan penyakit tanaman hanya dengan memotret bagian tanaman yang bermasalah menggunakan ponsel.

Sistem AI dalam aplikasi akan menganalisis gambar, mengidentifikasi kemungkinan serangan hama atau penyakit, lalu memberikan rekomendasi penanganan yang sesuai. Selain itu, aplikasi juga menyediakan informasi cuaca, rekomendasi pemupukan, serta fitur konsultasi dengan ahli pertanian dan komunitas petani lainnya.

Sebelum program ini berjalan, banyak petani di Desa Pematang Baru belum memahami dampak jangka panjang pupuk kimia serta masih kesulitan mengenali penyakit tanaman secara cepat. Melalui penyuluhan ini, petani kini memiliki alternatif pupuk organik berbasis EM4 sekaligus akses teknologi untuk mendukung pengambilan keputusan di lapangan.

Bagi tim KKN sendiri, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga tentang pentingnya sinergi antara teknologi dan pertanian berkelanjutan. Seperti yang dilansir https://www.unila.ac.id/kkn-unila-bantu-petani-pematang…/

“Kami sangat senang ternyata program kami sangat bermanfaat untuk para petani di Desa Pematang Baru. Harapan kami, warga dapat terus menggunakan pupuk organik, mengurangi bahan kimia, dan memanfaatkan teknologi pertanian agar ilmu yang didapat bisa berkelanjutan,” ujar tim KKN. Melalui program ini, diharapkan petani Desa Pematang Baru mampu menerapkan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, serta semakin siap menghadapi era digital dalam sektor pertanian.https://linktr.ee/em4















TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini