
Sampah, jika dikelola dengan baik dan benar tentu akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat alias berkah. Namun sebaliknya, bila dibiarkan berserakan tak terurus sudah pasti berpotensi menimbulkan masalah bahkan musibah. Sebut saja antara lain menjadi penyumbat aliran sungai, mencemari lingkungan hingga jadi sumber penyakit.
Lantas, bagaimana cara menjadikan sampah agar benjadi berkah? Sebenarnya tidaklah sulit, yang penting ada kesadaran akan pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat. Dari kesadaran ini, maka akan muncul pemikiran bagaimana cara menangani dan mengolah sampah itu sendiri sehingga benar-benar bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Seperti yang disampaikan Pengelola Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) Desa Tangkas, Kabupaten Klungkung, Ketut Darmawan, SP.T, SP, dari pengalamannya menangani dan mengolah sampah dari sumbernya/di rumahnya, banyak manfaat yang dia dapatkan. Mulai dari menghasilkan pupuk organik, pendapatan uang tambahan hingga terwujudnya lingkungan yang bersih dan sehat.
Dalam acara Podcast untuk Chanel Youtube EM Indonesia, yang diwawancarai Rai Stiawati, Ketut Darmawan menjelaskan, sejak dia mengolah sampah di rumah tangganya, dia mampu menekan volume sampahnya sangat signifikan yang dibuang ke TPA sampah. Dari sebelumnya, biasanya dia harus membuang rata-rata 20 kg tiap tiga hari atau 200 kg tiap bulannya, kini hanya 5 kg saja yang berupa sampah residu yang dibuang ke TPA.
Selain mampu mengurangi sampah kiriman ke TPA, dia juga memperoleh uang tambahan berkisar Rp5000 ribu-Rp8000 tiap bulan hasil dari setoran sampah anorganik ke bank sampah di desanya. Yang tak kalah manfaatnya, yaitu lingkungan menjadi bersih dan sehat sehingga terhindar dari salah satu sumber penyakit.
“Sekarang sampah yang saya buang ke luar rumah berkisar 5 kg saja, itu pun jenis residu. Sedang sampah organik saya olah jadi pupuk organik dan yang anorganik diserahkan ke bank sampah jadi tabungan uang,” jelas Ketut Darmawan dalam rekaman Podcast yang mengangkat topik “Penanganan Sampah Melalui Pengelolaan Sampah”, baru-baru ini.
Pengelolaan sampah berbasis sumber ini diperkuat dengan Peraturan Gubernur Bali No. 97 Tahun 2019 tentang Pengelolahan Sampah Berbasis Sumber yang salah satu isinya adalah masing-masing penghasil sampah wajib melakukan pemilahan sesuai jenisnya. Sumber-sumber penghasil sampah selain rumah tangga, juga sekolah, warung, pura, kantor, dan lainnya yang harus melakukan pemilahan sampah sebelum dibuang ke TPS3R atau TPA.
“Ini yang sering kami sosialisasikan bersama komunitas kepada masyarakat,” ujar Darmawan. Misalnya, bagaimana mereka agar mau memilah dan memisahkan sampah organik, anorganik, serta residu yang dihasilkan, lalu menaruh di depan rumahnya dan diangkut oleh jasa pengangkut sampah sesuai dengan jadwalnya.
Dalam pengelolaan sampah organik sampai menghasilkan pupuk organik, Darmawan mengaku menggunakan produk EM4 pertanian yang diproduksi oleh PT Songgolangit Persada (SLP) untuk mempercepat proses pengomposan selain juga agar tidak menimbulkan bau yang cepat mendatangkan lalat.
“Secara prinsip kita perlu input bakteri yang berguna yang diperlukan untuk sampah, karena sampah karakteristiknya cepat bau, cepat mendatanglah lalat, jadi perlu menggunakan EM4,” jelasnya.
Lebih jauh Ketut Darmawan menceritakan pengalamannya sebelum ‘cinta’ sampah dan belum bergelut di TPS3R. Disebutkan, pada 2015, di desanya muncul wabah DB (demam berdarah) dengan jumlah penderita 18 orang warga termasuk dirinya dan istrinya. Terjangkitnya DB tersebut dipicu oleh lingkungan yang tidak bersih dan tidak sehat akibat sampah dibuang sembarangan seperti di tegalan, sungai selain ada juga yang dibakar.
Dari pengalaman tersebut, akhirnya Darmawan bersama-sama tokoh masyarakat tergerak untuk mendirikan TPS3R agar sampah terkelola dengan baik demi terwujudnya lingkungan yang bersih dan sehat. Dirinya tak ingin ke depannya terjadi lagi wabah DB akibat masalah sampah. Melalui sosialisasi yang terus dilakukan serta makin tingginya tingkat pendidikan masyarakat, dia optimistis kesadaran masyarakat akan meningkat dalam pengelolaan sampah yang semakin baik.https://linktr.ee/em4
