Dampak Konsumsi Mewah

0
50
Petani sedang menuangkan EM4 pertanian ke dalam drum untuk membuat pupuk organik cair buat tanaman jeruk dan sayuran di kawasan Kintamani, Kabupaten Bangi.

Oleh: Gusti Ketut Riksa *)

Pada artikel yang lalu telah saya tulis tentang konsumsi mewah, sekarang saya uraikan sedikit tentang dampaknya, namun untuk memperjelas permasalahannya saya uraikan terlebih dulu secara singkat tentang faktor minimum. Mengenai faktor “minimum” pertama kalinya dikenalkan oleh Von Liebig dengan mengambil contoh sebuah drum yang berisi air.

Drum tersebut berupa drum lawas yang telah terkena korosi atau beberapa lubang di dindingnya. Tentu saja kemampuan drum menyimpan air tetap ditentukan oleh lubang terbawah. Bila lubang terbawah ini ditutup isi drum dapat bertambah namun tetap kemampuan isinya ditentukan oleh lubang lainnya yang posisinya terbawah, demikian seterusnya, dan dapat disimpulkan bahwa isi drum ditentukan oleh lubang terbawah; lubang inilah yang menjadi faktor minimum.

Kasus drum diatas berbeda dengan kasus yang dihadapi disektor pertanian; dipertanian semua komponen alam berpeluang menjadi faktor minimum bukan saja faktor yang benar-benar berada dalam keadaan “paling minimum”. Jadi produksi dapat ditingkatkan oleh komponen produksi yang tidak berada pada kondisi minimum. Dengan kata lain dapat dicontohkan bahwa lahan-lahan yang kekurangan phosfat produksinya dapat ditingkatkan bila dipupuk dengan kalium dan atau pupuk lainnya; atau dikocor dengan EM.

Ketahuilah bahwa komponen alam seperti tanah, air, udara, pH pencahayaan, angin, kandungan mineral dan lainnya saling mempengaruhi, ini berarti untuk meningkatkan produksi bukanlah dengan hanya merekayasa salah satu dari alam itu.

Baru-baru ini saya melihat suatu unggaan dalam youtube bahwa telah ditemukan suatu varietas jagung yang mampu berbuah lebih dari dua tongkal sepohonnya, bahkan tanaman lainnya mampu berbuah sampai 8 tongkol sepohonnya. Hal itu diperoleh dengan cara memperkuat perakaran tanaman melalui beberapa rekayasa yang kemudian menghasilkan akar yang sangat kokoh, sampai muncul akar-akar hawa diatas permukaan tanah. Tentu saja perakaran yang kokoh ini tanaman akan mampu menyerap nutrisi lebih banyak dari sebelumnya.

Mungkin juga pembentukan sing dan souse cukup seimbang sehingga biji-biji yang terbantuk sanagat mentes; selanjutnya saya berpendapat bawa mahasiswa yang melakukan percobaan itu sering melakukan penelitian faktor alam yang bukan sedang berada dalam kondisi minimum. Ketahuilah bahwa Prof, Higa beserta timnya telah berhasil menemukan padi yang mampu berproduksi 27 ton beras per hektarnya, mentimun dengan 4 buah setiap ruasnya serta 300 buah tomat cerry sepehonnya. Hayo mari perbanyak penelitian-penelitian mudah mudahan bisa menemukan hal-hal yang menakjubkan.https://linktr.ee/em4

*) Staf Ahli PT Songgolangit Persada dan Instruktur EM Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) Bali.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini