Obat Tradisional Bisnis Masa Depan Bidang Kesehatan

0
35
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPD) RI, Dr. Made Mangku Pastika, MM (tengah) menunjukkan produk Ramuan Pak Oles pada Acara Penyerapan Aspirasi Masyarakat di Kang Zanger Bokashi Farm, Jalan Waribang, Kesiman, Denpasar Timur.

Oleh: Ketut Sutika
Obat tradisional yang diproses dari bahan-bahan tanaman herbal berkhasiat obat mengandung antioksidan dan serat yang sangat baik bagi pencernaan tubuh, sehingga mampu meningkatkan imun tubuh tanpa menimbulkan efek samping.

Berbagai jenis tanaman obat yang telah dibudidayakan atau yang masih tumbuh liar di hutan belantara di berbagai daerah di Indoesia menghasilkan sennyawa antioksidan yang sangat baik untuk memelihara kesehatan tubuh yang prima serta menangkal serangan berbagai jenis penyakit.

“Obat tradisional berkualitas telah memiliki izin edar resmi dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), memang tidak instan, namun pelan-pelan tapi pasti dapat mengatasi keluhan atau menyembuhkan suatu penyakit,” tutur Direktur Utama PT Karya Pak Oles Tokcer, Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr menjawab pertaniaan salah seorang mahasiswa Perguruan Tinggi Kesehatan Bintang Persada Program Studi Farmasi dan Keperawatan di Denpasar baru-baru ini.

Dalam kegiatan Webinar sosok pria enerjik, alumnus Faculty Agriculture University of The Ryukyus Okinwa, Jepang itu menekankan, pengembangan industri masa depan dalam bidang kesehatan mengutamakan obat tradisional yang diproduksi dari bahan baku tanaman herbal yang populasinya sangat banyak tumbuh subur di berbagai daerah Nusantara.

Untuk itu para ahli kesehatan pada masa pandemi Covid-19 belakangan ini banyak melakukan penelitian terhadap obat tradisional yang memiliki anti virus, anti bakteri, anti jamur dan anti oksidan.

PT Karya Pak Oles Tokcer (KPOT), sebuah perusahaan swasta nasional berbasis obat-obatan tradisional terbesar di Bali yang telah berkembang selama 25 tahun tetap eksis hingga sekarang, dengan produk unggulan Minyak Oles Bokashi, Bokashi Care, Balsem Bokashi, Minyak Tetes Bokashi, Madu Geruh Bokashi dan belasan produk lainnya yang telah dinikmati konsumen secara meluas di pasaran Bali, nasional maupun mancanegara.

Suami dari Komang Dyah Setuti, S.Sn, M.I. Kom dalam kertas kerja berjudul “Mengenal Pengobatan Herbal Dibidang Kesehatan” itu menjelaskan, tanaman herbal yang tumbuh di berbagai hutan tropis di Indonesia diperkirakan lebih dari 5.000 jenis.

Perkembangan obat tradisional yang juga dikenal dengan jamu sejak zaman kerajaan Kutai tahun 400 terus berkembang pada zaman penjajahan Belanda, Indonesia Merdeka hingga sekarang zaman milenial, kemajuan internet, media sosial dan teknologi canggih obat tradisional selalu mendapat tempat di hati masyarakat.

Hal itu berkat obat tradisional sebagai alternatif untuk mengatasi keluhan berbagai jenis penyakit yang terus dikembangkan dengan mengolah bahan baku menjadi produk jadi, melakukan penelitian, pengembangan produk dan mengedukasi masyarkat secara meluas.
Ciptakan Lapangan kerja

Berkembangnya usaha-usaha bisnis yang mengolah bahan baku tanaman herbal dalam skala rumah tangga, usaha kecil menengah hingga menjadi perusahaan skala besar akan mampu menciptakan lapangan kerja, peluang bisnis dan meningkatkan kemampuan ekonomi negara dengan memberikan kontribusi berupa pembayaran pajak kepada pemerintah.

Berkembangnya obat tradisional secara meluas ke berbagai daerah di Indonesia maupun ke berbagai negara di belahan dunia, secara tidak langsung akan ikut memperkenalkan budaya, jati diri bangsa Indonesia kepada masyarakat internasional.

Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI Dr. Penny K. Lukito, MCP belum lama ini mempercayakan kepada PT Karya Pak Oles Tokcer (KPOT), sebuah perusahaan swasta nasional berbasis obat-obatan tradisional terbesar di Bali sebagai orang tua angkat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) obat tradisional untuk wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ketiganya masuk wilayah kawasaan Nusa Tenggara (Nusra).

PT KPOT yang didirikan dan dikelola oleh Dr.Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr merupakan salah satu dari 12 perusahaan di Indonesia yang ditunjuk sebagai orang tua angkat UMKM Obat Tradisional.

Dari 12 perusahaan tersebut, dua diantaranya yakni PT Karya Pak Oles Tokcer yang berkantor pusat di Bali dan Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI) Cilacap, Jawa Tengah menandatangani naskah kerja sama tersebut di Semarang, Jawa Tengah.

PT KPOT dalam acara panandatanganan naskah kerja sama dengan Kepala BPOM RI Dr. Penny K. Lukito, MCP tersebut diwakili Manajer Produksi Made Ayu Lidyawati didampingi Penanggungjawab Industri Obat Tradisional (IOT) PT KPOT Apt Endah Widyowati, S.Si.

Pelaksanaan pendampingan dan pemberdayaan UMKM tersebut untuk mendorong dan memperkuat UMKM Obat Tradisional dan Usaha Jamu Gendong agar mampu memproduksi produk yang berkualitas, berdaya saing dan mampu menembus pasar ekspor.

Kegiatan pendampingan UMKM Obat Tradisional tersebut sekaligus mendukung Hilirisasi Herbal Nasional Melalui Konsistensi Pemenuhan Mutu Bahan Baku. Dalam rangkaian kegiatan tersebut dilakukan penyerahan bantuan peralatan dari Orang Tua Angkat Jamu kepada Komunitas Jamu EMPU serta penandatanganan komitmen Orang Tua Angkat Jamu.
Semakin Bagus

Pak Oles yang juga alumnus S-3 Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menilai, buku pengobatan tradisional yang beredar sekarang sangat bagus, karena menggabungkan cara-cara pengobatan tradisional Bali, nusnatara dan mancanegara, yakni tanaman herbal yang dikembangkan menghasilkan senyawa antioksidan yang sangat baik untuk menjaga dan memelihara kesehatan tubuh.

Berbagai jenis tanaman obat yang dikembangkan itu, setelah dipanen diolah menjadi ekstrak yang mempunyai khasiat misalnya menurunkan panas tubuh, mengatasi asam urat, kolestrerol dan dan berbagai jenis penyakit lainnya.

Dalam Usada Bali terjemahan lontar, proyek pengobatan, pembinaan, pengawasan obat dan makanan tahun 1982-1983 ada sejumlah buku antara lain Usada Sasah Bebai (stres, gangguan jiwa), Usada Tiwas Punggung (penyakit dalam), Usada Dalem ( penyakit dalam, setruk, setres), usada upas (akibat racun, meningkatkan vitalitas, usada edan (gila), usada Tiwang (tanda sakit, hari mulai sakit, tanda-tanda sakit yang tidak bisa diobati) dan usada Tumbal (pengobatan dengan gambar/rajah, benda pengusir penyakit dan penggunaan obat herbal.

Salah satu buku herbal berjudul “Perawatan Tubuh dan Pengobatan Tradisional” yang ditulis R.Sartono, penerbit Dahara Prize, 1997. Serat Rama, Karya R Ng Yasadipura I (1729-1801) menyatakan bawa, Prabu Rama menugaskan kepada Hanoman mencari obat segala penyakit untuk pasukannya yang sakit. Obat tersebut adalah sandilata yang juga disebut sambiroto atau sambirata.

Sambiroto adalah satu jenis tanaman perdu yang rasanya pahit, multi khasiat menyembuhkan dan mengatasi keluhan berbagai jenis penyakit. Oleh sebab itu tenaga kesehatan dapat berkreasi mengembangkan ekstrak tanaman herbal dalam berbagai kemasan, sehingga konsumen dengan mudah dapat menikmatinya.

Berbagai usaha dan peluang bisnis tanaman herbal itu dapat dikembangkan untuk mendukung program pembangunan bidang kesehatan dan pola hidup sehat masyarakat yang bisa dilakukan para lulusan studi farmasi dan keperawatan, ujar Pak Oles. linktr.ee/pakolescom

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini