Pengamat: Kasihan Petani Harus Jadi Bamper Inflasi

0
58
Prof. Dr. Ir. I Wayan Windia Guru Besar pada Fak. Pertanian Unud, dan Ketua Stispol Wira Bhakti.

Pengamat masalah pertanian, Prof. Dr. Ir. I Wayan Windia, SU mengungkapkan produksi cabai dan bawang merah berkurang akibat pengaruh musim, sehingga petani dari kedua jenis komoditas tersebut menerima harga yang sangat menguntungkan.

“Tetapi apa mau dikata, ternyata pemerintah sangat alergi dengan inflasi. Karena harga cabai dan bawang merah yang naik, maka inflasi juga naik sedikit. Pemerintah ternyata ketakutan dengan inflasi. Lalu segera melakukan operasi pasar. Tentu saja harga cabai dan bawang merah segera turun. Tetapi nasib petani, bagaimana?,” kata Prof Windia yang juga Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik Wira Bhakti Denpasar, Jumat.

Ia mengatakan, tentu saja pendapatan petani menjadi menurun dratis, lalu kapan petani bisa menerima harga yang baik, menguntungkan mereka untuk kehidupan yang wajar dan layak. Bank Indonesia (BI) Denpasar menyebutkan, Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 96 ( di bawah 100). Itu artinya bahwa petani merugi, karena pendapatannya lebih rendah dari pengeluaran biaya opersional.

“Kalau mereka rugi, maka kebetulan mereka menerima kompensasi dari harga cabai. Lalu kenapa pemerintah ujug-ujug melakukan operasi pasar?,” kata Prof Windia dengan nada tanya.

Disebutkan bahwa untuk harga cabai dan bawang merah, tidak ada harga eceran tertinggi (HET). Jadi, sebaiknya biar saja harga cabai tinggi, untuk membantu meningkatkan pendapatan petani. Lalu kapan petani bisa agak kaya.

Semua ini membuktikan bahwa pemerintah semata-mata hanya membela kepentingan konsumen. Sama sekali tidak ada membela kepentingan produsen (petani). “Petani jangan terus terusan dijadikan bamper inflasi, harap Windia.

Kalau begini, maka tidak ada penduduk yang suka menjadi petani, karena mereka melihat rugi kalau menjadi petani. Kalau petani tidak suka menjadi petani, maka petani dengan mudah akan menjual sawahnya.

Selanjutnya, subak akan terancam. Bila subak mati, maka kebudayaan Bali akan melemah. “Kita akan kehilangan salah satu kearifan lokal yang diakui dunia” kata Prof Windia. https://linktr.ee/em4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini