Organisasi pangan dan pertanian (FAO) merasa khawatir terhadap kondisi pangan dunia, karena harganya cenderung meningkat sehingga berpengaruh terhadap negara-negara di belahan dunia untuk menyetop menawarkan komoditas tersebut ke pasaran ekpor.

Indonesia dan semua negara tentu mengambil sikap yang aman untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, kerena pangan adalah komoditas primer yang harus dapat terpenuhi dengan baik demi kelangsungan, kesinambungan, kesejahteraan, keamanan dan ketertiban masyarakat serta pembangunan nusa dan bangsa.

Mengantisipasi ketahanan pangan dalam negeri, pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah melakukan berbagai upaya dan terobosan, salah satu diantaranya menciptakan bibit padi varietas unggul maupun bibit umbi-umbi seperti keladi atau talas.

“Saya memberikan apresiasi terhadap gagasan dan upaya pemerintah mengembangan tanaman keladi jenis unggul guna membangkitkan kemali perekonomian, menopang kehidupan masyarakat di tengah lesunya perekonomian, sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional,” tutur Staf Ahli PT Songgongit Persada (SLP), Ir. I Gusti Ketut Riksa.

PT. SLP adalah satu-satunya di Indonesia yang mendapat lisensi dari Efftive Microorganisme Research Organization (EMRO) Jepang untuk memproduksi dan memasarkan pupuk hayati EM4 pertanian, EM4 Perikanan, EM4 Peternakan dan EM4 untuk mengatasi limbah (pencemaran).

Pria kelahiran Alasangker, Buleleng, daerah pesisir utara Bali, 24 November 1943 atau 79 tahun silam menilai, pengembangan tanaman keladi mempunyai prospek yang cerah karena potensi produksi kisaran 1-8 kilogram perpohon dengan harga yang berlaku Rp15.000/kg.

Tanaman talas jenis unggul tersebut siap dipanen setelah berumur 6-10 bulan, semakin lama umbinya di dalam tanah belum dipanen akan bertambah berat, citarasa yang lebih baik, tahan terhadap hama penyakit dan bisa ditanam di lahan kering
Upaya diversifikasi bahan pangan yang kini mulai diintensifkan oleh kelompok-kelompok petani dan pekebun di daerah pesisir utara Bali itu tampak tumbuh besar-besar dibanding dengan keladi jenis biasa.

Mereka yang tergabung dalam kelompok itu menerapkan teknologi Effective Microorganisms (EM) yakni mengunakan pupuk organik padat Bokashi Kotaku, maupun pupuk cair kencing kelinci, kencing sapi dan berbagai limbah organik yang difermentasi dengan EM4.

Hemat Air Irigasi

Upaya budidaya tanaman keladi mulai digeluti sebagian petani di Kecamatan Sawan, Sukasada dan Buleleng itu dinilai sangat hemat terhadap penggunaan air irigasi, sehingga tanaman bernilai ekonomis itu sangat cocok dikembangkan di lahan yang kesulitan air seperti di sawah yang memiliki petak ukuran kecil-kecil atau di tanah tegalan (ladang).

Gusti Kompiang Tirtayasa, S.P asal Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, adalah salah seorang petani yang mengembangkan tanaman talas di atas hamparan lahan seluas 8.000 meter persegi (80 are). Jenis tanaman talas yang dikembangkan terdiri jenis Talas Pratama 2 Berlian, Talas Gambir, Talas Bogor, Talas Udang, Talas Ketan, Talas Jepang dan Talas Togog Kuning.

Tanaman tersebut ditata sedemikian rupa, dengan jarak yang sama sehingga tampak sangat teratur dan rapi, sangat serasi dengan lingkungan sekitarnya yang asri dan menghijau. Sosok pria enerjik hampir setiap hari merawat tanamannya dengan baik, memupuk dan sekali-sekali menyiram di saat musim kering.

Pupuk yang digunakan adalah pupuk organik padat maupun cair yang dibuat dari bahan-bahan organik pilihan difermentasi dengan teknologi EM4 sehingga lebih mudah diserap akar tanaman.

Lebih praktisnya bisa juga menggunakan pupuk organik padat Bokashi Kotaku produksi PT. Songgolangit Persada unit Bantas, Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan yang mampu memperbaiki sifat-fisik kimia dan biologi tanah serta memperbaiki struktur dan tekstur tanah.

Sementara Manajer Pak Oles Green School, Ir. Koentjoro Adijanto menjelaskan, umbi talas merupakan sumber bahan pangan yang sehat dan aman untuk dikonsumsi. Pemberian pupuk organik terhadap tanaman yang baru dikembangkan itu dinilai sangat penting, semakin tinggi dosis bahan organik yang diberikan pada tanah, maka semakin banyak unsur-unsur yang akan dilepas atau dibebaskan ke tanah.

Dengan demikian ketersediaan hara dalam tanah lebih tinggi, sekaligus berpengaruh untuk meningkatkan serapan hara, guna merangsang proses pertumbuhan tanaman bernilai ekonomis tersebut.

Hasil penelitian terhadap pemberian pupuk organik pada tanaman keladi memberikan pengaruh positif yang dapat dilihat dari parameter pertumbuhan, yakni pada masa vegetatif tanaman talas, diantaranya jumlah daun, luas daun, tinggi tanaman, dan hal lain menyangkut tanaman tersebut.

Sedangkan pupuk organik Bokashi Kotaku adalah pupuk ramah lingkungan dengan kandungan makro dan mikro yang lengkap mengandung mikroba alami yang sangat bermanfaat untuk kesuburan tanah.

Kelangsungan Hidup

Gusti Kompiang Tirtayasa yang pernah bekerja di luar negeri sebagai pegawai hotel mengaku, menekani tanaman talas merupakan salah satu solusi untuk kelangsungan hidup petani, karena biaya pupuk semakin mahal, harga hasil pertanian umumnya kurang menggembirakan.

Suami dari Gusti Kadek Sinaryati menjelaskan, talas juga merupakan tanaman endemi yang bisa hidup pada dataran rendah dan dataran tinggi. Sebagian besar orang Bali tahu talas dan pernah mengkonsumsinya, karena talas merupakan makanan tradisional, namun talas yang berkembang adalah talas lokal yang umbinya kecil rasanya tidak terlalu enak, tutur ayah dari dua orang putra-putri itu.

Jarak tanam

Pengembangan budidaya talas dengan jarak tanam satu kali satu meter, atau untuk setiap. Sebelum menanam talas terlebih dulu membuat lubang dengan kedalaman 40 cm dan lebar 40 cm. Dalam lobang diisi pupuk organik, kalau masih berhubungan dengan tanah sawah masam bisa ditambah kapur dolomite, agar tanamannya tumbuh sehat dan subur.

Gusti Nyoman Sila (52) seorang petani di Dusun Kartiasa, Desa Pegadungan, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng telah terbukti sukses mengembangkan berbagai jenis varian talas antara lain Talas Pratama 2 Berlian, Talas Gambir, Talas Bogor, Talas Udang, Talas Ketan, Talas Jepang dan Talas Togog Kuning.

Ia mengembangkan tanaman talas tersebut di atas lahan seluas 76 are sejak tahun 2020 atau dua silam, dari segi perawatan tidak terlalu sulit, tanaman tahan terhadap penyakit, hemat air dan hasilnya sangat menjanjikan yakni panen perdana hasil penjualan mencapai Rp28 juta.

Menikmati hasil yang lumayan besar terus mengembangkan tanaman talas dan arealnya pun diperluas hingga menapai 76 are. Melihat sukses yang diraih banyak petani disekitarnya mulai itu menanam keladi jenis terbaru dengan varietas unggul.

Sedikitnya 50 petani sekitarnya mengikuti jejak menanam keladi dengan menambil bibit dari Gusti Sila. Ia mengaku selalu berbagi cara budidaya tanaman keladi kepada petani sekitar agar mereka bisa mendapatkan nilai tambah.

Tanaman keladi juga bisa ditanam secara tumpang sari di sela-sela tanaman cengkeh atau kopi yang ada di kebun. Bibit keladi yang dihasilkannya dijual Rp2.500 per biji, setelah dikembangkan dalam waktu 5 bulan bibit tersebut sudah tumbuh besar dan kembali menghasilkan bibit.

Pihaknya sedang melakukan terobosan untuk membangun komunitas menjadi sebuah wadah bagi petani keladi sebagai upaya memudahkan pembinaan, menyeragamkan harga dan memperluas pasar., tidak hanya di Bali, namun juga menjangkau Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, kota-kota besar di Jawa daerah daerah lainnya di Indonesia. https://linktr.ee/em4indonesia #EM4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini