Direktur Utama PT Karya Pak Oles Group, Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr menegaskan bahwa masa depan industri kesehatan dan pertanian Indonesia terletak pada kekayaan budaya jamu dan pertanian organik. Hal tersebut ia sampaikan dalam perayaan HUT Ke-28 Pak Oles Group di International Convention Center, Mall Bali Galeria di Kabupaten Badung, Bali dihadapan 300 karyawan.
“Sebagai seorang pemimpin, kita harus mampu memprediksi masa depan. Jamu dan pupuk organik bukan sekadar produk, tapi bagian dari solusi besar untuk kesehatan dan keberlanjutan lingkungan,” ujar Wididana, pria yang akrab disapa Pak Oles.
Menurutnya, budaya jamu adalah kekayaan tak benda yang diakui dunia. “Kita punya budaya jamu yang luar biasa, dan itu telah diakui UNESCO pada tahun 2023 sebagai warisan budaya tak benda. Ini adalah potensi besar untuk dikembangkan menjadi industri kreatif yang memberdayakan petani, peneliti, pengusaha, dan didukung pemerintah,” jelas alumnus Universitas Udayana dan University of The Ryukyus, Okinawa, Jepang itu.
Ia juga menyoroti potensi demografi Indonesia yang besar, dengan lebih dari 64 juta jiwa berusia produktif antara 16–30 tahun dari total populasi sekitar 281 juta. “Ini adalah aset bangsa. Generasi muda harus kita edukasi agar mencintai budaya jamu, hidup sehat, dan sadar akan lingkungan. Dari sini, mereka bisa membangun usaha berbasis kekayaan alam dan budaya kita,” tegasnya.
Lebih lanjut, Wididana mengungkapkan bahwa pertumbuhan permintaan pupuk organik terus meningkat. “Produk pupuk organik meningkat sekitar tujuh persen setiap tahun. Ini menunjukkan bahwa kesadaran terhadap pentingnya lingkungan yang bersih dan makanan sehat semakin tinggi. Teknologi Effective Microorganisms (EM) yang kami gunakan adalah salah satu kunci keberhasilan itu,” ungkapnya.
PT Songgolangit Persada (SLP), salah satu entitas bisnis di bawah naungan Pak Oles Group, saat ini menjadi pemain utama dalam industri pupuk organik. Di sisi lain, produk jamu dari PT Karya Pak Oles Tokcer juga terus berkembang dan dikenal luas masyarakat.
“Kunci keberhasilan kita adalah inovasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Kita harus menciptakan generasi jamu dan generasi cinta lingkungan. Ini adalah gerakan, bukan sekadar bisnis,” tandasnya.
Menutup pernyataannya, Wididana menyentil pentingnya membangun merek yang kuat dan menciptakan produk yang tidak hanya bermanfaat tetapi juga dipercaya masyarakat. Ia bahkan berbagi kisah inspiratif tentang bagaimana merek “Pak Oles” kini menjadi simbol kepedulian sosial.
“Dulu, 28 tahun lalu, banyak yang memandang sebelah mata. Tapi sekarang, sebut saja ‘karyawan Pak Oles’ di rumah sakit, dan Anda akan dibantu—termasuk dalam mendapatkan darah. Karena kami rutin melakukan donor darah 3–4 kali setahun. Itulah kekuatan dari membangun reputasi lewat aksi nyata,” pungkasnya.