Sebanyak enam siswa SMP Green School didampingi Miss Eka mengunjungi Pak Oles Green School (POGS) di Jalan Waribang, Kesiman, Denpasar Timur, Rabu (26/8/2026). Kunjungan edukatif tersebut menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mengenal lebih dekat teknologi Effective Microorganisms 4 (EM4) serta penerapannya dalam menjaga lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.
Rombongan siswa disambut langsung Manajer POGS, Koenjoro Adijanto, yang akrab disapa Yoyok. Dalam sesi pembelajaran, Yoyok memperkenalkan berbagai jenis tanaman herbal yang ditanam dan dikelompokkan secara rapi di lahan seluas 40 are.
Lahan tersebut menjadi miniatur kebun herbal sekaligus area edukasi yang mendukung penyediaan bahan baku produk tradisional PT Karya Pak Oles Tokcer, termasuk produk unggulannya, Minyak Oles Bokashi. Tanaman herbal di kawasan ini dirawat secara organik dengan memanfaatkan pupuk hayati EM4.
Tidak hanya mendapatkan penjelasan teori, para siswa juga diajak melakukan praktik pembuatan pupuk organik bokashi. Bahan yang digunakan antara lain kotoran ternak, serasah, dedak, dan bahan organik lainnya yang difermentasi menggunakan biokativator EM4.
Siswa juga mendapatkan pengalaman membuat pestisida alami dengan memanfaatkan rimpang dan daun tanaman yang tersedia di sekitar kebun POGS. Praktik tersebut memberikan pemahaman bahwa bahan-bahan alami di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Kunjungan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa pada tahun sebelumnya yang diikuti siswa SMA Green School dengan didampingi Kepala Sekolah SMA Green School, Peni Betasari.
Menurut Peni, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program “kelas jalan-jalan”, yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung di lapangan.
“Tujuannya agar siswa mengenal tanaman herbal yang ada di Bali dan manfaatnya. Harapannya, setelah memahami, mereka bisa membuat proyek akhir berupa produk berbahan dasar tanaman herbal lokal,” ujar Peni.
Ia menjelaskan, produk yang dikembangkan siswa nantinya dapat berupa loloh, bubuk daun kelor, maupun berbagai olahan herbal lainnya yang ramah lingkungan dan berbasis kearifan lokal. Untuk mendukung proses tersebut, Green School telah menyediakan laboratorium khusus serta tenaga ahli di bidang sains dan eksperimen.
Sebagai bagian dari kelanjutan program, para siswa juga akan diajak mengunjungi sejumlah perusahaan lokal yang bergerak dalam pengolahan produk herbal, seperti minyak atsiri, kunyit bubuk, dan kelor bubuk.
“Kami pilih POGS karena perusahaan Pak Oles sudah sangat berpengalaman dan kompeten di bidang tanaman herbal,” tambah Peni.
Peni menekankan pentingnya membangun kesadaran generasi muda terhadap potensi tanaman herbal lokal. Menurutnya, pemahaman tersebut dapat membuka wawasan siswa mengenai pemanfaatan sumber daya alam secara bijak dan berkelanjutan.
“Anak-anak perlu tahu bahwa tanaman di sekitar mereka bisa menjadi alternatif alami untuk menjaga kesehatan, bukan hanya bergantung pada obat kimia,” tegasnya.
Menariknya, siswa Green School berasal dari lebih dari 40 negara, di antaranya Jepang, Rusia, India, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Keberagaman tersebut membuat pengalaman belajar semakin kaya karena para siswa dapat bertukar budaya sekaligus memperluas wawasan mengenai pemanfaatan tanaman herbal dari perspektif global.
Setelah berkeliling melihat berbagai jenis tanaman herbal yang berkhasiat, kunjungan ditutup dengan makan siang bersama. Para siswa menikmati Nasi Timbel khas Sunda di Waroeng Kang Zanger yang berada di kawasan kebun Pak Oles Green School, Bokashi Farm.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran tentang tanaman herbal dan teknologi EM4, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada generasi muda mengenai pentingnya menjaga lingkungan melalui pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

