
Sebanyak 50 siswa/siswi SMK Pancasila 4 Baturetno, Wonogiri, Jawa Tengah, menerima cinderamata produk herbal saat melakukan kunjungan industri ke gedung produksi Industri Obat Tradisional (IOT) PT Karya Pak Oles Tokcer (KPOT) yang berlokasi di Jalan Tukad Balian, Renon, Denpasar Selatan, belum lama ini.
Dalam kunjungan tersebut, para siswa yang didampingi dua guru pembimbing mendapatkan cinderamata berupa Minyak Oles Bokashi dan Balsem Bokashi. Produk herbal khas Bali ini disambut dengan antusias oleh para siswa, yang tampak tertarik dengan manfaatnya untuk menjaga kesehatan.
Rombongan siswa jurusan pemasaran itu diterima langsung oleh Kepala Bagian Pemastian Mutu IOT KPOT Plan 1, Apt. Luh Ketut Budi Maitriani, S.Farm, didampingi Inspektorat Pemastian Mutu Dita Rizkiyanti, S.Si., M.Si, serta staf marketing online Gung Candra.
Dalam pemaparannya, Luh Ketut Budi Maitriani menjelaskan sejarah berdirinya PT Karya Pak Oles Tokcer yang didirikan oleh Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr, alumnus Faculty of Agriculture, University of The Ryukyus, Okinawa, Jepang. Ia mengembangkan Minyak Oles Bokashi sebagai ramuan tradisional berbasis tanaman obat organik yang terinspirasi dari warisan keluarga di Desa Bengkel, Kabupaten Buleleng, Bali.
Minyak Oles Bokashi dikenal memiliki berbagai manfaat, di antaranya membantu meredakan pegal linu, bisul, gatal, hingga bengkak akibat gigitan serangga. Produk ini merupakan hasil perpaduan ramuan tradisional dengan teknologi Effective Microorganisms (EM) yang dipelajari di Jepang.
Selain itu, perusahaan juga memproduksi beragam produk herbal lainnya seperti Bokashi Care, Minyak Tetes Bokashi, Balsem Bokashi, madu herbal, Masker Madu Hitam, hingga Krim Saribing.
Sementara itu, Gung Candra menjelaskan bahwa saat ini pihaknya tengah berupaya mengubah persepsi masyarakat terhadap produk herbal Pak Oles. Menurutnya, selama ini produk tersebut lebih dikenal di kalangan orang dewasa, padahal aman digunakan mulai dari usia remaja.
“Produk kami tidak hanya dipasarkan di Bali, tetapi juga diminati di berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara,” ujarnya.
Ia pun mendorong para siswa untuk mulai mengenal dan memasarkan produk-produk herbal lokal yang telah teruji kualitasnya.
Salah satu guru pendamping, Rosiana, mengungkapkan bahwa kunjungan industri ini disesuaikan dengan jurusan pemasaran di sekolah. Tujuannya agar siswa mendapatkan pengalaman langsung dalam memahami strategi pemasaran dari perusahaan yang telah eksis selama hampir tiga dekade.
“Selain pemasaran digital dan marketplace, mereka juga memanfaatkan media radio. Ini bisa menjadi inspirasi bagi sekolah kami ke depan,” ujarnya.
Di akhir kegiatan, para siswa diajak berkeliling pabrik untuk melihat langsung proses produksi yang telah memenuhi standar BPOM. Kunjungan ditutup dengan pembagian cinderamata produk herbal kepada seluruh peserta sebagai kenang-kenangan.linktr.ee/pakolescom
