Penggunaan EM4 Toilet berbasis teknologi Effective Microorganisms (mikroorganisme efektif) kian diminati masyarakat sebagai solusi alami menjaga kebersihan toilet dan kinerja septic tank. Produk hayati ini bekerja mempercepat penguraian limbah organik dan tinja secara anaerobik, sehingga mencegah penumpukan lumpur, mengurangi risiko penyumbatan saluran pembuangan, sekaligus menghilangkan bau tak sedap seperti amonia dan H₂S yang kerap mengganggu kenyamanan keluarga.
Dengan menjaga septic tank tetap berfungsi optimal, EM4 Toilet juga membantu mencegah kebocoran limbah yang berpotensi mencemari air tanah dan lingkungan sekitar. Langkah sederhana ini dinilai menjadi bagian penting dari upaya menjaga sanitasi rumah tangga yang sehat dan ramah lingkungan.
Sejumlah penelitian menunjukkan efektivitas penggunaan EM4 dalam pengolahan limbah. Salah satu studi mencatat penambahan EM4 pada septic tank mampu menurunkan kadar BOD hingga 71 persen dan COD hingga 91 persen, yang menandakan peningkatan signifikan kualitas air limbah. Penelitian lain terkait penguraian lumpur tinja secara anaerobik juga membuktikan EM4 mampu mengurangi volume lumpur secara bertahap serta menekan bahan organik penyebab bau dan pencemaran.
Hasil tersebut menjadikan EM4 sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan bahan kimia, yang dalam jangka panjang dapat mengganggu keseimbangan mikroorganisme alami di dalam septic tank.
Direktur Utama PT Songgolangit Persada (SLP), Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr menjelaskan bahwa Effektive Microorganisms 4 (EM4) merupakan produk mikroorganisme multi kultur dalam media cair yang terdiri dari bakteri fotosintetik, ragi, dan Lactobacillus. Teknologi ini pertama kali dikembangkan oleh Teruo Higa dari University of the Ryukyus, Jepang.
“Limbah toilet rumah tangga yang umumnya diolah secara alami dalam septic tank di bawah tanah perlu ditingkatkan daya dukungnya dengan bantuan EM4,” ujar Wididana.
Ia menambahkan, teknologi EM bekerja dengan kekuatan fermentasi dan sintetik untuk mengurai bahan organik, baik di tanah maupun di air. Dalam konteks septic tank, proses pembusukan yang biasanya menghasilkan gas-gas berbau dapat diubah menjadi proses fermentasi. Dengan demikian, pembentukan gas amonia, H₂S, metil, merkaptan, serta gas berbau lainnya dapat ditekan.
“Dengan pemberian EM4 di toilet, gas-gas busuk berkurang karena dimanfaatkan oleh bakteri sintetik. Proses pembusukan berubah menjadi fermentasi, sehingga panas dan bakteri pembusuk juga menurun,” jelasnya.
Produk EM4 sendiri mulai dikembangkan di Indonesia sejak 1990 oleh Dr. Wididana di bawah bendera PT Songgolangit Persada. Awalnya terdaftar untuk sektor pertanian, kemudian berkembang untuk perikanan, peternakan, hingga pengolahan limbah organik dan toilet.
Secara praktis, penggunaan EM4 Toilet cukup mudah. Cairan disiramkan ke lubang WC atau langsung ke septic tank setiap satu hingga dua bulan sekali. Jika septic tank sudah penuh akibat kapasitas terbatas, disarankan melakukan perlakuan tambahan sebanyak satu liter EM4 dan dapat diulang setiap bulan.
Dengan penggunaan rutin, masyarakat tidak hanya menjaga toilet tetap bersih dan segar, tetapi juga mengurangi frekuensi pengurasan septic tank serta risiko penyakit akibat sanitasi yang buruk. Solusi berbasis mikroorganisme ini dinilai sebagai langkah sederhana namun efektif dalam mendukung kesehatan keluarga dan keberlanjutan lingkungan.https://linktr.ee/em4

