Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr Direktur Utama PT Karya Pak Oles Group.

Filosofi keseimbangan ala samurai dinilai relevan diterapkan dalam dunia bisnis, manajemen, hingga kepemimpinan modern. Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PT Karya Pak Oles Group, Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr saat mengulas buku “Samurai Selling” karya Chuck Laughlin, Karen Sage, dan Marc Bockmon.

Menurutnya, buku tersebut menekankan pentingnya kekuatan keseimbangan samurai untuk memenangkan “pertarungan”, yang dimaknai sebagai perjuangan dalam kehidupan dan dunia profesional. Keseimbangan yang dimaksud mencakup empat unsur utama, yakni integritas, disiplin, kreativitas, dan tanpa rasa takut.

“Pertarungan menggunakan pedang di zaman samurai membutuhkan kejujuran dan hati yang bersih dalam pelayanan, baik melayani masyarakat maupun pemimpinnya,” ujar sosok pria enerjik yang akrab disapa Pak Oles.

Ia menjelaskan, integritas mencerminkan kejujuran dalam bertindak. Seorang “samurai” modern, kata dia, bekerja bukan semata-mata demi materi, melainkan untuk memberikan pelayanan terbaik. Sementara itu, disiplin diartikan sebagai kerja keras, keteguhan, serta kekuatan menghadapi cobaan dan rintangan.

Adapun kreativitas merupakan kemampuan untuk terus berpikir mencari jalan terbaik, efektif, dan efisien, termasuk dalam menyusun strategi menyerang maupun bertahan dalam persaingan. Sedangkan sikap tanpa rasa takut berarti berani melangkah maju, menghadapi tantangan, dan bertindak dengan penuh keberanian.

Wididana menilai, penerapan sikap mental samurai inilah yang menjadi salah satu faktor keunggulan Jepang dalam bidang industri, manajemen, kepemimpinan, hingga pemasaran.

Ia menambahkan, kesuksesan sangat ditentukan oleh keseimbangan dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. “Mereka yang tidak seimbang akan mudah jatuh dan dikalahkan. Keseimbangan harus terus dilatih hingga menjadi sikap mental yang kuat untuk memenangkan persaingan,” jelasnya.

Dalam konteks bisnis dan industri, lanjutnya, sikap mental samurai perlu ditanamkan melalui contoh nyata, mulai dari lingkungan keluarga, organisasi, masyarakat, hingga pemerintahan. Individu yang belum memiliki sikap tersebut didorong untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Menurut Wididana, sukses pada dasarnya merupakan hasil dari sikap mental. Sikap mental positif akan membawa keberhasilan, sedangkan sikap mental negatif cenderung berujung pada kegagalan.

“Sikap mental samurai adalah modal budaya yang terbukti mampu mendukung manajemen dan kepemimpinan modern menuju kesuksesan,” pungkasnya.linktr.ee/pakolescom

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini