
Kondisi lahan yang kering, tidak menjadi halangan bagi Teguh Adi Saputro, petani dari Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung untuk membudidayakan tanaman kakao bersama para petani yang menjadi mitranya. Dengan memanfaatkan produk Effective Microorganisms 4 (EM4), ia berhasil melakukan ekspansi membudidayakan kakao di daerah Tulang Bawang.
Teguh Adi Saputro menuturkan, lahan pertanian yang digunakan untuk budidaya kakao di daerah Tulang Bawang sebelumnya sudah lama ditanami singkong yang banyak menggunakan pupuk kimia. “Akibatnya, unsur hara tanah menjadi sangat minim dan keras, penggunaan EM4 ini dapat digunakan untuk pembenahan tanah,” kata Teguh.
Teguh telah membudidayakan tanaman kakao sejak 2018 dengan menanam varietas MCC O2 (Masamba Cocoa Clone 02) karena dinilai memiliki berbagai keunggulan seperti buahnya yang lebih genjah dan tahan Penyakit Streak Dieback (PSD).
Awalnya banyak pihak yang meragukan apakah tanaman kakao bisa tumbuh di daerah Tulang Bawang karena terkenal dengan daerah yang cuacanya lebih panas dibandingkan daerah lainnya serta lahannya yang kering. Tetapi, Teguh meyakini usahanya akan berhasil karena berbekal pengalamannya mengembangkan kakao di daerah Kabupaten Pesawaran sejak 2017 yang juga telah menggunakan EM4 produksi dari PT Songgolangit Persada (SLP).
“Pertama, saya kembangkan kakao di daerah Pesawaran pada 2017 bersinergi dengan petani di sana. Harapannya saat itu agar kami bisa bersama-sama menjadi petani cerdas dan sejahtera,” ucapnya.
Pengalaman di daerah Pesawaran, tanaman kakao yang ditanam bisa rutin dilakukan pemanenan dan bahkan tidak mengenal musim, terus dapat dipanen. Menurut dia, dengan menggunakan metode penanaman dan pupuk tertentu, serta produk EM4, maka kakao dapat tumbuh dengan baik.
Untuk membudidayakan tanaman kakao di daerah Tulang Bawang, haruslah disiapkan instalasi pengairan sendiri. Kalau tidak, maka akan cukup sulit bagi tanaman untuk mendapatkan air saat musim kemarau.
Sedangkan EM4 digunakan tidak hanya untuk pembuatan kompos, tetapi juga mulai dari media tanam dan persiapan benih. Oleh karena menggunakan stek pucuk, maka benih kakao direndam EM4 agar sehat.
Untuk aplikasi ke tanaman, digunakan metode kocor pada sekeliling batang kakao, kemudian disemprotkan juga ke daun. “Hal ini cukup membantu dengan kondisi cuaca di Tulang Bawang yang kering. Pengaplikasian EM4 menjadikan batang tumbuh maksimal dan tanah lebih subur,” ujar Teguh.
Teguh menuturkan, setelah rutin menggunakan EM4, dari sisi kondisi tanah seluas 1,5 hektare yang ditanami, meskipun di atas terlihat kering, tetapi jika digali sedikit, maka tanahnya gembur dengan warna kehitaman. “Itu artinya mengandung unsur hara yang baik. Batang kakao juga sehat dan warna daun hijau mengkilat,” katanya menambahkan.
Di sisi lain, ia menegaskan bahwa menjadi petani harus sejahtera. Oleh karena itu, Teguh bersama petani lainnya sengaja menanam kakao. “Bertani jangan sekadar bertani, tetapi kita harus jadi petani cerdas, bisa membaca peluang, apa yang bagus kita tanam dan prospek hasilnya. Kopi adalah kebutuhan dunia dan masih minim negara penghasil kakao yakni Pantai Gading, Ghana dan Indonesia, sehingga saya baca peluang akan mampu mensejahterakan petani,” ucapnya.
Menggunakan EM4, lanjut Teguh, juga sejalan dengan pertanian organik dengan harga jual yang tentu lebih tinggi. Pertanian organik ini sangat penting untuk jangka panjang bagi anak cucu kita. “Oleh karena itu, mari kita gunakan EM4, selain untuk melestarikan alam, juga dapat memberikan kesejahteraan bagi petani,” katanya.https://linktr.ee/em4
