EM4 Bangkitkan Pertanian Organik Semangat Berkarya

0
166
Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr Direktur Utama PT Songgolangit Persada menunjukkan sejumlah produk EM4.

Oleh: Ketut Sutika

Mikroorganisme menguntungkan bekerja di dalam tanah melalui memfermentasi bahan organik menghasilkan asam organik, hormon tanaman, vitamin dan antibiotik.  Produk fermentasi itu sangat bermanfaat untuk menumbuhkan tanaman, menyediakan molekul organik sederhana agar bisa diserap langsung oleh tanaman, memacu pertumbuhan tanaman.

“Dengan fungsi mikroorganisme yang menguntungkan itu, tanah menjadi subur dan tanaman berproduksi melimpah, meskipun tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia,” seperti yang dituturkan Direktur Utama PT Songgolangit Persada, Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr.

Alumnus Faculty Agriculture University of The Ryukyus Okinawa, Jepang itu menilai, Effective Microorganisms (EM4) kini dimanfaatkan dalam berbagai aspek kehidupan yakni dalam bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan pengolahan limbah.

Masalah bau yang menyengat pada limbah dan pada kotoran ternak dapat dihilangkan, sehingga menjadikan penggunaan EM berkembang sangat luas, berkat efektif, mudah digunakan, ekonomis, hemat energi, ramah lingkungan, dan tepat guna untuk pertanian alami yang mampu mensejahterakan umat manusia sekarang dan hari esok yang lebih cerah.

EM adalah teknologi yang mudah, murah, hemat energi, ramah lingkungan dan berkelanjutan, dengan produk EM4 di Indonesia adalah pelopor pertanian organik. EM4 pertama kali diperkenalkan ke Indonesia oleh penemunya Prof. Dr. Teruo Higa, guru besar bidang hortikultura University of The Ryukyus Okinawa, berawal

pada tahun 1990 dengan uji coba, penelitian selama lima tahun bekerjasama dengan peneliti di universitas dan badan penelitian. “EM4  mendapat izin berproduksi dan pemasaran ke seluruh daerah di Indoneia pada 1995,” tutur Dr. Wididana agen tunggal di Indonesia untuk memproduksi dan menjual EM yang mendapat lisensi dari EMRO Jepang.

Sosok pria enerjik kelahiran Desa Bengkel, Busungbiu, Kabupaten Buleleng itu menjelaskan, awalnya EM4 diproduksi untuk pertanian, selanjutnya perijinannya meluas untuk peternakan, perikanan dan EM4 limbah untuk peturasan (WC) dan mengatasi pencemaran lingkungan.

Petani dan penghobi pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan menyambut baik kehadiran pupuk hayati EM4, sehingga pasar EM4  itu semakin meluas dan terbuka setelah pertanian organik semakin ngetrend berkembang di Indonesia.

Gede Ngurah Wididana menjelaskan, lembaga penelitian dan universitas di Indonesia ikut berperanserta secara aktif mendukung penelitian EM4, sehingga EM4 menjadi semakin diterima oleh masyarakat dari seluruh daerah di Nusantara. EM4 juga digunakan untuk pengolahan sampah di rumah tangga dan sampah kota untuk mendaur ulang limbah organik untuk pupuk organik.

Kembalikan Kesuburan Lahan

Sementara Staf Ahli PT Songgolangit Persada, Ir. I Gusti Ketut Riksa menjelaskan, tanah pertanian yang kurus (kritis) menyebabkan  produksi yang sangat rendah dan menghilangkan gairah petani yang tidak tertarik lagi menekuni usaha pertanian yang telah dilakoni secara turun temurun.

Untuk mengembalikan kesuburan lahan pertanian sekaligus mempertahankan keberadaan organisasi pengairan tradisional dalam bidang pertanian dapat dilakukan dengan merubah pertanian kimia menjadi pertanian organik ramah lingkungan.

Mantan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangli yang juga instruktur EM4 pada Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) Bali itu menekankan, petani sebagai alternatif menembangkan pertanian organik dapat membuat pupuk bokashi dalam jumlah besar dengan biaya murah dan proses yang cepat memanfaatkan sentuhan EM.

Dengan demikian akan dapat mempercepat revitalisasi kesuburan lahan sawah. Pengalaman membuktikan pemupukan dengan bokashi 10 ton perhektar dengan biaya relatif murah, pasca tiga kali tanam padi, pematang sawah sudah harus dinaikkan karena di lahan olah tanahnya mengembang dan gembur.

Kandungan bahan organik dan rongga udara tanah meningkat sekitar 50 persen dari volume tanah total. Volume sebesar 50 persen itulah sebagai ruang udara dan ruang air.

Akar tanaman beserta biota tanah bisa bernafas dan hidup lebih baik, tanah lebih banyak memegang air. Semakin banyak tersedia bahan organik untuk  didekomposisi biota tanah semakin banyak pula kandungan nutrisi tanah dan tanah menjadi lebih kuat dan lebih banyak dapat memegang air.

Gusti Ketut Riksa menjelaskan, petani agar mampu membuat pupuk organik dengan volume besar di lahan milik garapannya dengan menggunakan limbah-limbah organik, limbah pertanian yang difermentasi dengan EM dan dalam jangka waktu tiga minggu sudah bisa dipanen dan diaflikasikan ke tanaman.

Pemupukan dengan Bokashi dapat meningkatkan kandungan bahan organik, meningkatkan jumlah dan jenis mikroba dalam tanah. Semua persyaratan untuk hidup sehat terpenuhi dengan menggunakan pupuk bokashi sehingga alam semesta terus mengalami revitalisasi.

Murah mudah dan cepat

Gusti Ketut Riksa menekankan, semua petani dimanapun berada mampu membuat pupuk organik bokashi secara murah, mudah dan cepat  memanfaatkan bahan baku sampah dan limbah organik dengan sentuhan EM4. Membuat  pupuk ramah lingkungan itu dapat dilakukan di mana saja, baik di  gudang, halaman rumah, di tegalan atau di sawah.

Kumpulkan bahan organik sebanyak mungkin meliputi sampah organik, sampah rumah tangga, sampah dapur, serbuk kayu gergajian, sekam padi serasah dan kotoran hewan.

Semua bahan tersebut ditumpuk bercampur ditaburi dengan sedikit dedak  lalu siram dengan EM yang telah diencerkan dengan setiap 10 cc EM per liter air hingga kelembaban mencapai sekitar 35 persen-40 persen kemudian ditutup dengan terpal.

Hanya dengan fermentasi selama dua minggu, semua bahan organik akan berubah  menjadi pupuk bokashi yang siap ditaburkan di lahan persawahan. Setelah penaburan bokashi barulah lahan dibajak, digaru seperti biasanya.

Membuat bokashi langsung di  atas lahan sawah, setelah panen babad jerami sampai dipangkalnya, tambahkan lagi dengan serasah lainnya seperti rabasan rerumputan, sampah-sampah organik, serbuk kayu bekas gergajian , sekam padi dan kotoran hewan semakin banyak lebih bagus.

Taburkan bokashi dua ton per hektar secara merata selanjutnya genangi lahan sawah dengan air irigasi yang ditambah dengan 100 liter EM  aktif, yang berasal dari lima liter EM asli.

Biarkan genangan itu selama tiga minggu, semua bahan organik akan menjadi lumat, setelah itu baru dibajak seperti biasa dilakukan, bahan organik bercampur dengan lahan olah.

Tuangkan bokashi cair pasca tanam padi. Bokashi cair adalah pupuk cair yang dibuat dari kotoran hewan yang diencerkan dengan air,  selanjutnya difermentasi dengan EM, disiram pada lahan sawah yang telah ditanami padi dan digenangi air irigasi.

Berikut penuangan bokashi cair yang dapat mempercepat menyuburkan lahan sawah. Siapkan drum plastik yang bervolume 100 liter, masukkan kotoran sapi atau ayam maupun kambing ke dalam drum sebanyak 30 kg atau 30 persen dari volume wadah.

Setelah itu masukkan juga tiga liter EM, tiga liter molase, lalu isi drum air sampai penuh. Campuran adonan itu diaduk merata selama 5 menit lalu ditutup dengan plastik dan diikat tali. Lakukan pengadukan selama 3-4 hari, setiap hari selama tiga menit terus tutup kembali dengan plastik.

Selama sepuluh hari adonan itu difermentasi telah menghasilkan 100 liter pupuk bokashi cair yang cukup untuk memupuk  tanaman padi di sawah seluas satu hektar. Tuangkan bokashi cairan itu disetiap petakan sawah melalui kuakan pematang tempat air masuk.

Lakukan pembuatan dan penyiraman dengan cara yang sama sebanyak 8 kali selama 90 hari umur padi sehingga akan memperoleh percepatan kesuburan lahan sawah dengan cara yang mudah dan murah.

Setelah tiga kali musim tanam diperlakukan dengan cara yang sama akan terjadi perubahan yang sangat nyata tentang kesuburan tanah yang dicirikan dengan lahan olah yang semakin dalam, sehingga pematang sawah harus ditinggikan, kandungan bahan organik bertambah, kandungan udara dalam tanah juga meningkat, tanah semakin kuat untuk memegang air, fisik, kimia dan biologi tanah secara keseluruhan juga membaik.

Semua itu menjadikan masyarakat luas dapat mengkonsumsi beras organik, bebas kimia dan bernutrisi tinggi. Sapi, kerbau dan kambing yang makan jeraminya akan menjadi lebih sehat, semua makluk akan hidup sehat dan berbahagia sekaligus pertanian dan organisasi subak akan selamat dari kehancuran.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini