Sebanyak 52 mahasiswa/i Fakultas Farmasi Universitas Islam Kalimantan Muhammadiyah Arsyad Al Banjari Banjarmasin (UNISKA MAB) melakukan kunjungan industri ke PT Karya Pak Oles Tokcer, sebuah industri obat tradisional ternama di Jalan Tukad Balian, Renon, Denpasar, pada Kamis (28/8).

Rombongan mahasiswa semester tujuh ini didampingi oleh tiga dosen pembimbing dan tiba menggunakan tiga unit bus. Mereka disambut hangat oleh Inspektorat Pemastian Mutu PT Karya Pak Oles Tokcer, Dita Rizkiyanti, S.Si., M.Si., yang mewakili manajemen perusahaan.

Dalam sambutannya, Dita mengapresiasi kunjungan tersebut sebagai langkah positif dalam mengenalkan dunia industri herbal kepada generasi muda, khususnya calon apoteker. “Kunjungan ini merupakan momen penting untuk memperluas wawasan mahasiswa terkait industri kesehatan berbasis herbal yang kini semakin berkembang,” ujarnya.

Kegiatan diawali dengan pemutaran video profil PT Karya Pak Oles Group yang memaparkan perjalanan dan bidang usaha perusahaan yang fokus pada industri kesehatan herbal serta pertanian organik dengan teknologi Effective Microorganisms 4 (EM4).

Rizkiyanti menjelaskan bahwa perusahaan yang dirintis sejak 1997 ini awalnya hanya memiliki izin PIRT. Pada tahun 2000 berkembang menjadi UKOT dan mendirikan dua pabrik di Buleleng dan Denpasar. Pada tahun 2011, perusahaan resmi berstatus sebagai Industri Obat Tradisional (IOT) yang telah tersertifikasi Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan mendapatkan re-sertifikasi pada 2021.

Mahasiswa juga diperkenalkan pada proses produksi Ramuan Pak Oles, mulai dari pengolahan bahan, pengemasan, hingga pelabelan dan pemberian kode batch serta tanggal kedaluwarsa. Semua proses tersebut dilakukan sesuai standar kualitas yang diawasi secara ketat oleh tim Quality Assurance (QA) dan Quality Control (QC).

Salah satu dosen pembimbing, apt. Rizki Rahmadi Pratama, M.Farm., mengungkapkan bahwa kunjungan industri ini merupakan bagian dari program praktik kerja lapangan yang bertujuan memperlihatkan secara langsung bagaimana dunia farmasi industri bekerja.

“Dengan kunjungan ini, mahasiswa bisa melihat langsung bagaimana proses produksi di industri, mulai dari obat tradisional hingga kosmetik. Ini penting sebagai modal awal mereka jika ingin membuka peluang usaha di bidang farmasi,” jelasnya.

Rizki juga menambahkan bahwa di kampus, para mahasiswa telah dibekali ilmu dasar melalui praktikum formulasi dan teknologi sediaan, baik padat seperti tablet, sirup, maupun non-padat seperti salep, krim, hingga produk steril. Produk hasil karya mahasiswa tersebut bahkan sudah dipamerkan di etalase kampus sebagai bagian dari program kreativitas mahasiswa.

Ia berharap para mahasiswa dapat terus berkembang dan memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang dunia industri farmasi, khususnya dalam pengembangan obat herbal. “Indonesia, termasuk Kalimantan, memiliki potensi besar dalam pengembangan tanaman obat herbal. Ini bisa menjadi peluang wirausaha yang sangat menjanjikan di masa depan,” pungkasnya.linktr.ee/pakolescom

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini