Kotoran sapi merupakan salah satu bahan organik yang sangat potensial untuk diolah menjadi pupuk kompos berkualitas. Selain ramah lingkungan, pupuk kompos juga berfungsi sebagai pembenah tanah alami yang mampu meningkatkan kesuburan tanah secara berkelanjutan.
Kotoran sapi diketahui mengandung berbagai unsur hara penting bagi tanaman, di antaranya nitrogen (0,33 persen), fosfor (0,11 persen), kalium (0,13 persen), dan kalsium (0,26 persen). Kandungan tersebut menjadikan kotoran sapi sebagai bahan baku yang ideal untuk pembuatan pupuk organik.
Pusat Pembibitan Sapi Bali Kelompok Tani Ternak (KTT) Satwa Winangun di Banjar Tusan, Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, telah memanfaatkan kotoran sapi menjadi pupuk organik berkualitas melalui teknologi Effective Microorganisms 4 (EM4).
Ketua Kelompok Tani Ternak Satwa Winangun, I Nengah Sudarma, mengatakan kelompoknya yang dirintis sejak November 2005 secara rutin memproduksi pupuk organik bokashi padat. Menurutnya, penggunaan teknologi EM4 membuat proses pembuatan pupuk lebih praktis, hemat biaya, dan mampu memberikan hasil yang lebih optimal.
“Pupuk bokashi yang kami buat tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan kelompok, tetapi juga dijual kepada masyarakat. Hasil penjualannya kemudian dikembalikan untuk mendukung kegiatan kelompok,” ujar Sudarma.
Dalam proses pembuatannya, pupuk bokashi padat menggunakan komposisi bahan berupa 60 persen kotoran sapi, 30 persen bahan organik seperti jerami atau rumput, serta 10 persen campuran dedak, arang, tepung ikan, dan zeolit. Sebagai bahan fermentasi digunakan 1 liter EM4 dan 1 liter molase atau 1 kilogram gula.
Seluruh bahan kemudian dicampur hingga memiliki kadar air sekitar 30–40 persen, yang ditandai dengan kondisi bahan masih dapat menggumpal saat dikepal namun mudah mengembang kembali saat dilepaskan. Setelah itu, bahan difermentasi dengan suhu di bawah 50 derajat Celsius selama 4 hingga 7 hari hingga pupuk siap digunakan.
Sudarma menjelaskan, keberadaan sekitar 60 ekor sapi di kandang kelompok menghasilkan bahan baku pupuk yang melimpah setiap harinya. Selain itu, lokasi kelompok yang berdekatan dengan area persawahan dan perkebunan memudahkan mereka memperoleh bahan organik pendukung seperti jerami dan rumput.
Menurutnya, pemanfaatan limbah ternak menjadi pupuk organik tidak hanya memberikan nilai tambah ekonomi, tetapi juga membantu menjaga lingkungan dengan mengurangi pencemaran akibat penumpukan kotoran ternak.
Pupuk organik yang difermentasi menggunakan EM4 juga dinilai mampu menggantikan sebagian peran pupuk kimia (anorganik) dalam menjaga kesuburan tanah. Selain menambah unsur hara, pupuk bokashi berfungsi memperbaiki kondisi fisik, biologi, dan kimia tanah yang mengalami penurunan kualitas akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.
Dengan pemanfaatan teknologi EM4, Kelompok Tani Ternak Satwa Winangun membuktikan bahwa limbah ternak dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mendukung pengembangan pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.https://linktr.ee/em4

