Rebo Ijo Wisanggeni, komunitas dan UMKM yang fokus pada pertanian selaras alam, edukasi pangan sehat, dan pengolahan sampah rumah tangga organik telah menunjukkan kiprahnya sejak berdiri pada 2018. Sampai sekarang, UMKM ini tidak hanya fokus pada pertanian organik, tetapi juga menggabungkan konsep wisata edukasi mini tentang urban farming di tengah hiruk pikuk Kota Denpasar, Bali.
Terletak di Jl. Merdeka IX No.91, Sumerta Kelod, Denpasar, Bali, pengunjung dapat belajar langsung tentang cara berkebun di tengah kota meskipun dengan lahan yang terbatas.
Eko Martono, salah satu pengelola Rebo Ijo Wisanggeni Organic menuturkan dengan berbagai usaha yang dilakoni komunitas ini ingin membuka wawasan masyarakat bahwa sesungguhnya untuk bertani itu tidak susah. “Yang seringkali susah adalah ruang mereka untuk bertanya dan mempraktikkan,” ucapnya saat ditemui di YouTube EM Indonesia Official.
Oleh karena itu, komunitas ini tak segan memberikan pembelajaran dan pendampingan bagi generasi muda agar tidak minder jika ingin bertani. “Yang datang ke sini, ada yang minta didampingi karena memiliki lahan sempit, ada yang sekadar refreshing, dan ada pula yang ingin mencoba menanam juga kami perbolehkan,” katanya.
Puluhan jenis tanaman tumbuh subur tanpa penggunaan pupuk kimia di tempat ini, mulai dari sayuran hijau, tanaman herbal, hingga buah-buahan. Mereka ingin memastikan bahwa hasil pertanian yang dihasilkan sepenuhnya organik. Tak hanya menjual tanaman kepada para tetangga, juga memproduksi kapsul herbal sambiloto, kunyit dan sebagainya.
Salah satu keunikan komunitas ini, juga terkait penerapan metode daur ulang sampah dapur menjadi pupuk organik melalui program Osamtu (Olah Sampah Tuntas) dan mampu mandiri pupuk. Sampah dapur diubah menjadi pupuk organik cair, pupuk padat, dan maggot sebagai pakan ternak. “Untuk starter dalam pengolahan pupuk kami menggunakan Effective Microorganisms 4 (EM4). Kami tahu sejarah dan konsistensi dari produk ini,” ucap Eko menegaskan.
EM4 adalah kultur campuran mikroorganisme yang terdiri dari bakteri Lactobacillus, Actinomycetes, Streptomyces, Ragi jamur dan bakteri fotosintetik yang bermanfaat bagi tanah dan tanaman serta dapat menguraikan limbah.
Menurutnya, tidak sedikit dari pengunjung juga bertanya tentang EM4 ini, terkait bagaimana cara menggunakan dan dimana bisa memperolehnya. “Bagi yang tidak paham, kami dikiranya marketingnya EM4. Kalau orang bertanya, kalau saya tahu, tentulah saya arahkan ke sana,” ujarnya.
Bagi Eko, jangan sampai apa yang dibeli masyarakat tetapi tidak dipakai karena ketidaktahuan dan kurang berani bertanya. Oleh karena itu, ia tidak segan-segan untuk memandu penggunaan EM4 supaya tidak sia-sia ketika sudah dibeli.
Dalam kesempatan itu, ia berpesan kepada masyarakat bahwa tidak memiliki lahan yang luas, bukan berarti kita tidak berbuat untuk lingkungan. Kalau ingin bicara pangan dan lingkungan sehat, harus berani memulai dan memiliki kepekaan. Kepedulian harus dibarengi kepekaan.https://linktr.ee/em4

