Dua siswa SMP Negeri 1 Banjarnegara berhasil membuktikan bahwa gulma air eceng gondok yang selama ini dianggap sebagai pengganggu ekosistem Waduk Mrica, ternyata dapat diolah menjadi pakan ternak unggas yang bergizi, ekonomis, dan ramah lingkungan melalui teknologi fermentasi menggunakan EM4 (Effective Microorganisme 4).

Adalah Rosyadha Astuningtyas dan Ambar Fauzatun Ni’mah, dua pelajar yang tergabung dalam kegiatan penelitian Opsi IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), yang melakukan riset pemanfaatan eceng gondok (Eichhornia crassipes) sebagai alternatif pakan entok atau itik serati. Penelitian tersebut dilaksanakan selama dua bulan, yakni Agustus hingga September 2025.

Dalam risetnya, mereka memanfaatkan eceng gondok yang diambil dari Waduk Mrica, waduk terbesar di Jawa Tengah, yang selama bertahun-tahun mengalami ledakan populasi gulma air akibat eutrofikasi. Proses fermentasi dilakukan dengan mencampurkan eceng gondok dengan bioaktivator EM4, bekatul, dan molase, kemudian difermentasi hingga siap digunakan sebagai pakan.

“Selama ini eceng gondok hanya dibersihkan dan dibuang, padahal kandungan nutrisinya cukup tinggi jika diolah dengan tepat,” ungkap Rosyadha, seperti dikutip dari rilis https://www.rmoljawatengah.id/](https://www.rmoljawatengah.id/)

Dalam tahap pengujian, para siswa membagi entok menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diberi pakan bekatul biasa, sementara kelompok kedua diberi pakan campuran eceng gondok hasil fermentasi. Hasilnya, entok yang mengonsumsi pakan fermentasi menunjukkan pertambahan berat badan yang lebih tinggi dengan kondisi kesehatan yang tetap stabil.

Berdasarkan uji statistik yang dilakukan, perbedaan pertumbuhan kedua kelompok tersebut terbukti signifikan secara ilmiah. “Pakan fermentasi eceng gondok tidak hanya layak dikonsumsi, tetapi juga meningkatkan pertumbuhan unggas secara nyata,” jelas Ambar.

Tak hanya memiliki nilai ilmiah, penelitian ini juga menawarkan solusi ekologis. Waduk Mrica selama ini menghadapi permasalahan serius akibat peningkatan nutrien seperti nitrogen dan fosfat yang berasal dari limpasan pupuk kimia lahan pertanian di sekitarnya, sehingga memicu pertumbuhan eceng gondok secara masif dan mengganggu fungsi waduk.

Melalui penelitian ini, Rosyadha dan Ambar berharap temuannya dapat menjadi solusi ganda, yakni mengurangi populasi eceng gondok yang merusak ekosistem perairan sekaligus menyediakan alternatif pakan ternak murah bagi peternak kecil. “Kalau eceng gondok bisa diolah jadi pakan, berarti kita bisa membersihkan waduk sambil membantu peternak,” pungkasnya.https://linktr.ee/em4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini