Sejumlah mama-mama Papua di Sentani, Kabupaten Jayapura, mengikuti pelatihan pembuatan pupuk organik cair. Pelatihan ini diberikan oleh tim Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua yang berkolaborasi dengan Pusat Pembelajaran Masyarakat atau Community Learning Center (CLC) Hena Uwakhe Imea, serta didukung oleh Samdhana Institute.

Sebanyak 10 peserta ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari tiga kampung, yakni Kampung Hobong, Asei Besar, dan Ifar Besar. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mama-mama Papua dalam memanfaatkan bahan lokal menjadi pupuk ramah lingkungan.

Koordinator Tim Kerja Sama dan Diseminasi Modernisasi Pertanian BRMP Papua, Edison Ayakeding, mengatakan pupuk organik cair memiliki banyak keunggulan karena bahan bakunya mudah diperoleh dari lingkungan sekitar.

“Pupuk organik cair ini ramah lingkungan dan bahannya berasal dari bahan-bahan lokal. Sehingga bisa terus diproduksi secara mandiri oleh mama-mama di rumah masing-masing,” kata Edison seperti yang dilansir https://jubi.id/…/mama-mama-papua-di-kabupaten…/

Ia berharap, melalui pelatihan ini para peserta dapat menjadi produsen pupuk organik cair yang mampu mendukung keberlanjutan budidaya hortikultura, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun pengembangan usaha kecil.

Sementara itu, penyuluh pertanian Yuliana H. Rumsarwir yang menjadi pemateri dalam pelatihan menjelaskan bahwa pupuk organik cair sangat cocok digunakan untuk tanaman hidroponik maupun sayuran di pekarangan rumah.

Menurut Yuliana, bahan-bahan yang digunakan cukup sederhana, seperti bonggol atau kulit buah dan sayuran busuk, misalnya pisang, pepaya, dan sawi. Selain itu diperlukan air cucian beras, gula merah atau gula pasir sebagai bahan fermentasi, air bersih, bakteri pengurai EM4, serta botol bekas atau jerigen tertutup.

“Langkah awalnya, kulit buah atau sayur dipotong-potong atau dicacah, lalu dicampurkan dengan air cucian beras di dalam jerigen. Setelah itu ditambahkan gula dan EM4, kemudian diaduk rata,” jelas Yuliana.

Campuran tersebut kemudian ditambahkan air hingga hampir penuh, ditutup rapat, dan disimpan di tempat teduh yang tidak terkena sinar matahari langsung. Selama proses fermentasi, tutup wadah perlu dibuka sedikit setiap hari selama sekitar satu menit untuk membuang gas. Fermentasi berlangsung selama tujuh hingga 14 hari.

“Apabila cairan pupuk berbau seperti tape, artinya pupuk organik cair sudah jadi dan siap diaplikasikan ke tanaman,” kata Yuliana.

Pelatihan ini diharapkan dapat mendorong kemandirian mama-mama Papua dalam memanfaatkan limbah organik sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian ramah lingkungan di tingkat rumah tangga.https://linktr.ee/em4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini