Seorang pekerja sedang menyemprotkan cairan EM untuk percepatan pengomposan sampah .JPG

Rumah Kompos Padangtegal, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali mengelola sampah masyarakat, hotel dan usaha bisnis lainnya di daerah tersebut berkat sentuhan Teknologi Effective Microorganisme (EM) mampu menghasilkan pupuk organik.

“Pupuk organik yang diolah dari limbah itu sudah banyak dimanfaatkan masyarakat dan konsumen untuk mendukung pengembangan pertanian organik, serta bekerja dengan mitra usaha yang biasa menangani penggarap proyek taman di hotel dan tempat lainnya  sampai ke kawasan Jimbaran, Nusa Dua, Kabupaten Badung,” tutur Bagian Administrasi Rumah Kompos Desa Adat Padangtegal, Ubud Kadek Jois Yana (31).

Ia mengatakan hal itu  ketika menerima tim reportase Youtube EM Indonesia yang terdiri atas Kepala Pemasaran PT Songgolangit Cabang Bali Irkham Rosidi, Manajer Pak Oles Green School Koentjoro Adijanto, Gede Sustrawan dan Putu Wirnata.

Desa Padangtegal, di perkampungan seniman Ubud, Gianyar  mengelola objek wisata andalan Monkey Forest yang dihuni ratusan ekor kera jinak yang menjadi daya tarik wisatawan nusantara dan mancanegara sehingga dituntut lingkungan untuk selalu bersih, aman, lestari dan indah.

Kadek Jois Yana menjelaskan, pihaknya setiap hari memproduksi pupuk organik  sebanyak 1-1,5 meter kubik, setiap saat bisa ditingkatkan jika menerima pesanan, karena cadangan bahan baku cukup tersedia dari tempat pengolahan sampah organik sebanyak 57 bak dari 61 bak yang dimiliki.

Sampah tersebut dipungut dari 672 kepala keluarga (KK) seluruh banjar di lingkungan Desa Adat Padangtegal serta hotel dan usaha bisnis lainnya sebanyak 723 unit, namun pada masa pandemi Covid-19 sekarang masih aktif hanya 186 usaha.

Kadek Jois Yana  menambahkan, masing-masing rumah tangga dan unit usaha yang ada di lingkungan Desa Adat Padangtegal terlebih dahulu harus memilah sampah yang terdiri atas sampah organik dan anorganik. Petugas kebersihan rumah kompos akan memungut sampah organik ke setiap rumah tangga dan unit usaha setiap hari antara pukul 04.00-08.00 pagi.

Sedangkan sampah anorganik dipungut setiap tanggal ganjil, atau dua hari sekali antara pukul 19.00-24.00 waktu setempat. Hasil sampah anorganik itu di angkut ke gudang untuk dipilah kembali bekerja sama dengan pihak pengepul untuk bisa didaur ulang sehingga memiliki nilai ekonomis.

Rumah Kompos Padangtegal seluruhnya memiliki tenaga kerja sebanyak 37 orang yang terdiri atas manajemen 4 orang, sopir 5 orang, pengolahan sampah 18 orang, dan kebersihan dan merangkap pengolahan sampah 10 orang.

Sampah organik yang diangkut dari masyarakat dan unit usaha langsung dicacah, dipotong menjadi bagian-bagian kecil untuk diproses menjadi pupuk organik yang ditampung pada 57 bak dari 61 bak penampungan yang dimiliki.

Masing-masing bak penampungan mempunyai volume 8-8,7 meter kubik dengan ukuran lebar 11,5 meter, panjang 2,5 meter sampai 3 meter dan tinggi 1,5 meter.

Rumah Kompos Padangtegal telah mengelola sampah secara intensif sejak tahun 2012 atau 9 tahun yang lalu sebagai upaya untuk menjadikan desa yang telah dikenal masyarakat dunia internasional itu menjadi bersih, indah dan lestari,

Berkat keberhasilannya banyak menerima kunjungan rombongan pelajar mahasiswa dari berbagai daerah di Bali maupun luar Bali untuk mengetahui tentang kiat dan terobosan dalam menangani sampah, tutur Kadek Jois Yana. linktr.ee/pakolescom