Prospek Peternakan Sapi Organik Cerah(1)

Sejumlah anak TK memberikan makan sapi yang dibudidaya secara organik di Pak Oles Green School, Jalan Waribang, Kesiman, Denpasar Timur.

Oleh:  Prof. Dr. Ir. Ni Nyoman Suryani, MSi *)

Universitas Udayana belakangan ini, produk berlabel organik sangat popular dan diburu. Sudah banyak produk pertanian organik  yang beredar seperti beras, sayur mayur, daging ayam bahkan sampai kosmetik.

Kini sudah mulai muncul daging sapi organik. Bahan-bahan yang berlabel organik walaupun cenderung mahal tetapi tetap diburu, terutama mereka yang berkantong tebal dan mempercayai bahwa produk organik itu adalah sehat dan terjamin keamanannya.

Masyarakat mulai menyadari bahaya dan dampak negatif yang ditimbulkan dari pemakaian bahan kimia sintesis dalam bidang pertanian. Konsumen sudah bijak memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan.

Produk pertanian dan peternakan yang mengandalkan penggunaan bahan kimia non alami, seperti pupuk anorganik, pestisida kimia sintesis dan hormone pertumbuhan perlahan-lahan mulai ditinggalkan.

Pola hidup sehat “back to nature” semakin mendominasi. Produk organik dapat diproduksi dengan cara yang dikenal sebagai pertanian organik. Produk organik adalah hasil tanaman/ternak yang diproduksi melalui praktek-praktek pertanian yang secara ekologi, sosial ekonomi berkelanjutan, dan mutunya baik, nilai gizi dan keamanan terhadap racun terjamin

Daging sapi organik termasuk dalam produk organik. Pedoman utama produksi organik adalah dengan menggunakan bahan dan praktik yang meningkatkan keseimbangan ekologi dari sistem alam dan yang mengintegrasikan bagian-bagian dari sistem pertanian ke dalam satu kesatuan ekologi.

Pertumbuhan permintaan bahan makanan organik di dunia terus meningkat dari tahun ke tahun, termasuk di Indonesia. Pertumbuhannya mencapai 15-20 persen karena didorong peningkatan daya beli masyarakat.

*) Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Udayana.