Mentan: AMR Ancaman Serius Keberlanjutan Ketahanan Pangan

Suasana seminar Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia 2021 di di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Selasa (24/11).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan, sektor pertanian, peternakan dan kesehatan hewan, Resistensi  antimokriba (AMR) menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan ketahanan pangan, serta mengancam pengembangan kesehatan hewan yang berkelanjutan.

“Sektor pertanian sendiri akan sulit menahan ancaman besar tersebut. Untuk itu kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan  kapasitas sektor pertanian dalam mengelola resiko AMR dan membangun ketahanan terhadap dampak AMR,” kata Mentan Syahrul Yasin Limpo secara virtual pada acara  Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia 2021 di di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Selasa (24/11).

Dalam acara yang diikuti 130 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan dimeriahkan dengan pameran melibatkan produsen obat hewan dan manusia itu, Mentan Syahrul Yasin Limpo menilai Antimikroba memiliki peran penting dalam mengobati penyakit hewan penghasil pangan (baik darat maupun akuatik/perikanan) serta tanaman pangan yang dapat membantu untuk menjamin ketahanan pangan.

Obat-obatan dapat digunakan untuk mengobati hewan yang sakit, atau untuk mencegah penyakit, menyebarluaskan dalam kawanan ternak, kandang maupun peternakan. Penggunaan antimikroba yang tidak tepat adalah ancaman yang cukup besar terhadap kesehatan global, keamanan pangan, kesehatan pangan, produksi tanaman, ternak dan pembangunan ekonomi global.

Sekitar 700.000 kematian setiap tahunnya berkaitan dengan AMR. Oleh Karena itu AMR juga sering disebut sebagai “pandemi tersembunyi” yang mengancam kesehatan hewan dan manusia secara global.

AMR dapat membuat ekonomi global kehilangan hingga 6 triliun dolar AS pertahun pada tahun 2050, atau setara dengan hampir 4 persen Produk Domestik Bruto (PDB) global. Hanya dalam 10 tahun lebih dari 24 juta orang akan jatuh ke bawah garis kemiskinan akibat AMR, terutama mereka yang berada di negara berkembang.

Meningkatnya angka kemiskinan tentu akan menambah angka kelaparan dan kekurangan gizi. Hal itu menunjukkan bahwa AMR dapat menghambat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB/SDB), khususnya tujuan kedua, yakni mewujudkan dunia tanpa kelaparan.

AMR tengah melonjak pada tahap yang mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, serta menghambat pengobatan penyakit infeksi menular, seperti pneumonia, tuberculosis, sepsis dan gonorea pada manusia.

Demikian pula penyakit infeksi pada hewan, khususnya ternak yang menjadi semakin sulit, bahkan tidak mungkin untuk diobati, ketika antibiotik menjadi kurang efektif. Pada sektor pertanian dan peternakan hal itu menyebabkan kerugian produksi, menghancurkan mata pencaharian dan mengancam ketahanan pangan.

Bahkan kebih parahnya AMR dapat menyebar melalui beragam inang serta melalui lingkungan yang membuat mikroorganisme yang resistan terhadap antimikroba dapat mencemari rantai pangan. linktr.ee/pakolescom