Barong Landung, Percumbuan Budaya Era Bali Kuno (2)

Dr. Kadek Suartaya, S.S.Kar, M.Si Adalah Pemerhati seni budaya, Dosen Fakultas Seni Pertunjukkan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

 Latar legenda sepasang suami-istri Jayapangus dan Kang Cing Wie bila dikaitkan dengan wujud fisik Barong Landung terasa lebih berterima, terlepas dari kebenaran historisnya, khususnya Jero Luh yang wajahnya berkarakter khas wanita Cina.

Bagian kisah yang menunjang penapsiran ini adalah setelah Jayapangus dan Kang Cing Wie dikutuk hangus oleh Dewi Danu—istri kedua Jayapangus. Rakyat  yang menghormati pasangan pemimpin Bali itu kemudian mengabadikan berupa sepasang patung dimana yang wanita bermata sipit.

Penghormatannya kemudian sebagai Barong Landung menstimulasi pemaknaan teologis, filosofis dan estetis. Dominasi warna hitam dan putihnya, diantaranya, dimaknai sebagai kearifan rwabhineda, dua berbeda yang saling berinteraksi.

Asosiasi Barong Landung dengan latar legenda Jayapangus-Kang Cing Wie, apabila dipertemukan dengan dimensi akulturasi budaya Bali-Cina, tampak menunjukkan suatu harmoni yang diwarisi dan dikembangkan masyarakat Bali.

Akulturasi nan harmonis tersebut terhampar dalam jejak budaya benda maupun tak benda seperti pis bolong atau uang kepeng, ornamen patra dalam seni rupa, dan peralatan rumah tangga hingga penerimaan yang telah mengkristal dalam seni musik, seni tari dan seni teater. Keterbukaan kebudayaan Bali terhadap unsur-unsur kebudayaan Cina ini juga sama luwesnya terhadap penerimaan pengaruh kebudayaan dari bangsa lain yang sudah berlangsung sejak masa lampau, seperti pengaruh kebudayaan India, Mesir, Belanda dan lain-lainnya.

Betapa tolerannya masyarakat Bali terhadap pengaruh unsur kebudayaan Cina tampak kental dalam budaya non benda, terindentifikasi dalam seni pertunjukan Bali. Hingga kini satu ansambel gamelan yang dikenal sebagai Gong Beri masih terawat secara fisik dan fungsional dalam ritual.

Gong sebagai instrumen utama dalam barungan ini sama dengan gong Cina yang tanpa pencon di tengahnya. Demikian pula, dari sekian jenis tari baris upacara, Baris Cina, sangat kental dengan pengaruh Negeri Tirai Bambunya, dilihat dari bahasa, gerak dan busana yang dikenakan. Pun cerita Sampek Engtay yang sering disajikan dalam teater Arja dan Drama Gong tak asing bahkan sangat terasa lokal  bagi masyarakat penonton.

Barong Landung adalah sebuah cermin tolelaransi yang diwarisi dan diteruskan oleh masyarakat Bali. Benih-benih toleransi itu rupanya subur bersemai di bumi Nusantara. Ingatlah sekitar abad era pemerintahan Jayapangus di Bali, di tanah Jawa muncul Kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular yang juga menyuarakan bhinneka tunggal ika tan hana mangrwa, kesatuan dalam perbedaan.

Konsep toleransi itulah patut diperluas maknanya dalam konteks mensyukuri eksistensi keutuhan bangsa. Kearifan yang telah dirintis oleh para pedahulu itu semestinya menggugah kesadaran kita saling menghargai, merengkuh kejayaan bangsa dan negara dengan membuang jauh-jauh sengkarut cekcok tiada guna.

*) Penulis adalah Pemerhati seni budaya, Dosen Fakultas Seni Pertunjukkan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.