Barong Landung , Percumbuan Budaya Era Bali Kuno (1)

Dr. Kadek Suartaya, S.S.Kar, M.Si adalah pemerhati seni budaya, Dosen Fakultas Seni Pertunjukkan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Oleh: Dr. Kadek Suartaya, S.S.Kar, M.Si *)

Kejelitaan Kang Cing Wie mempesona Raja Jayapangus. Putri seorang pedagang dari Negeri Tiongkok itu menambat hati seorang raja Bali kuno–penerus dinasti Warmadewa. Walau tidak direstui oleh penasihat kerajaan, cinta asmara sang raja sudah tak terbendung.

Kutuk Mpu Siwagandu dengan menghadirkan hujan lebat hingga menenggelamkan kerajaan, juga tak menggerus rasa sayang raja kepada wanita berkulit kuning itu, kendatipun harus meninggalkan kraton, mengungsi menuju lereng Gunung Batur. Kisah perjumpaan Jayapangus dengan Kang Cing Wie ini, bukan hanya sebatas romansa percumbuan asmara, namun dalam perjalanannya, kini, dipandang memancarkan dimensi akulturasi kebudayaan Bali dengan Cina.

Mengacu kepada sejumlah prasasti yang ditemukan, Raja Jayapangus diperkirakan berkuasa di Bali sekitar abad-11-13 Masehi. Raja yang beristana di Panarajon ini adalah penguasa yang arif bijaksana, membawa rakyatnya hidup tenteram kerta raharja.

Akan tetapi tentang wanita Cina, Kang Cing Wie, yang dikisahkan menjadi permaisuri Raja Jayapangus, hingga kini masih samar temuan historisnya. Walaupun putri bermarga Kang yang ayahnya disebut I Subandar ini masih belum jelas, tetapi sebuah artepak yang diwarisi masyarakat Bali dikait-kaitkan dengan figur Raja Jayapangus dan Putri Kang Cing Wie. Itulah Barong Landung, benda sakral yang sewaktu-waktu dapat disaksikan masyarakat umum seperti dalam tradisi ngelawang saat perayaan Galungan dan Kuningan.

Legenda Jayapangus-Kang Cing Wie, sejatinya bukan sumber tunggal asal muasal Barong Landung. Ada sumber merujuk keberadaan Barong Landung berkaitan dengan Ratu Gede Mecaling.

Dituturkan pada sasih kenem (bulan keenam penanggalan Bali) adalah hari-hari yang menakutkan bagi masyarakat Bali Selatan. Pada suatu malam di sekitar bulan itu, seseorang memergoki Ratu Gede Mecaling yang berwajah seram sedang mengomandoi pasukan leak menyebarkan penyakit.

Esoknya orang itu membuat lelakut (orang-orangan) tinggi besar seperti figur Ratu Gede Macaling yang kemudian diarak setiap malam, membuat leak-leak takut dan menjauh. Sejak itu, masyarakat kembali tenang dan lelekut itu disempurnakan serta disakralkan dan secara takzim disebut Jero Gede.

Masyarakat Bali lazim menyebut Barong Landung yang laki-laki Jero Gede dan yang wanita Jero Luh. Berbeda dengan jenis barong pada umumnya yang berwujud binatang berkaki empat, Barong Landung berwujud manusia landung (bertubuh tinggi), sekitar tiga meter yang diusung masing-masing oleh seorang pemain.

Jero Gede berwajah hitam legam dengan gigi agak maju diapit taring atas menjulur ke samping. Sedangkan Jero Luh berwajah putih bermata sipit dengan bibir tersenyum ramah. Busana yang dikenakan pada Jero Gede, seluruhnya hitam, sebaliknya Jero Luh sekujur tubuhnya dibalut busana putih. Tangan kiri Barong Landung dikunci metungked bangkiang alias berkacak pinggang.

*) Penulis adalah Pemerhati seni budaya, Dosen Fakultas Seni Pertunjukkan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.